Aku masih merasakan keringat dingin yang mengucur di keningku. Tanganku berasa dingin. Badanku pun berasa dingin. Seluruh tubuhku kini bergoncang, tak bisa menahan kehororan di hadapanku. Aku mencoba menutup mata, namun otak ini serasa tak berfungsi. Pencerahan pikiran yang kudapat saat berenang lantas hilang seketika. Aku hanya berdiri gamang di tepian kolam, tak bisa berpikir apa-apa.
Aku melihat semua orang itu yang telah membeku seketika. Di kolam, di tepian kolam, di tempat duduk nun jauh di sana. Semuanya beku. Es putih berkristal menutupi seluruh badan mereka. Menakutkan, ekspresi mereka seperti tak terkejut sama sekali. Semua seperti terjadi seketika. Air kolam yang semula biru pun kini tertutup es tipis. Uap dingin menyeruak dari sela-sela retakannya. Angin dingin mulai terasa menyeruak, menambah horornya suasana.
Aku mengambil nafas panjang. Memejamkan mata dan membukanya kembali, sembari mengembalikan kecerahan pemikiranku. Saat itulah aku baru tersadar. Tunggu, mengapa aku baik-baik saja? Mengapa aku tidak ikut membeku seperti mereka?
Aku mencoba menyusuri tepian kolam, melintasi es tipis yang kini semakin banyak bermunculan. Aku mengangkat diriku ke luar kolam. Terduduk sejenak sambil kembali menatap kolam yang kini berubah menjadi sekumpulan es tebal. Aku pun berdiri. Masih terus tergidik, aku pun berlari. Aku menggapai handuk dan baju sambil terus berlari.
Aku merasakan angin dingin terus menusuk. Angin dingin menderus semakin kencang. Di sayup-sayup aku berlari, aku mendengar suara desiran angin di belakangku. Aku menoleh, dan kembali terdiam. Di tebalnya angin kencang, aku melihat sesosok bayangan melayang. Bayangan itu terus semakin mendekatiku. Aku hanya terdiam, tak bisa bergerak, meski angin kencang dingin menerpaku. Aku terlalu takut untuk membayangkan apa di balik bayangan itu.
Aku masih terdiam, saat bayangan itu berubah menjadi kenyataan. Seorang perempuan cantik berbaju hitam dan beranting besar terbang melayang terus mendekatiku. Ia menatapku tajam. Tangan kanannya yang memegang bunga lili menunjukku.
“Kamu harus ikut denganku. Angin dingin es ini hanya satu dari awal bencana yang akan terjadi di hari depan. Keberadaan kamu penting untuk keselamatan dunia,” kata perempuan itu.
Aku hanya tergugup dan tak bisa berkata apa-apa. Kebingungan semakin melanda pikiranku.
“Kamu harus percaya padaku. Kamu punya peranan penting dalam menyelamatkan mereka semua,” lanjut perempuan itu dengan misterius.
Aku tak bisa berpikir apa-apa. Namun entah kenapa, aku hanya mengangguk dan mendekatkan telapak tanganku ke bunga lili yang dipegangnya.”
“Terima kasih,” katanya.
(Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan karakter tertentu).
Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang
Bagian 3: Menatap
Bagian 4: Mendingin
Ada satu hal yang membekas sejak saya ikutan IYCE (International Young Creative Entrepreneural) Awards yang diadakan oleh British Council tahun 2008 kemarin, yakni diingatkannya saya untuk punya sumbangan terhadap lingkungan sekitar. Semua yang menang dari sekumpulan finalis tahun-tahun sebelumnya punya pola serupa. Mereka selain unggul dari sisi entrepreneurship, juga punya sumbangan yang berarti akibat dari kegiatan entrepreneurship-nya itu. Ada sisi sosial yang harus dimunculkan, dan tidak melulu kepentingan bisnis semata.
About

