Si Doel Pengusaha Kreatif

tontonan February 5th, 2010

si-doelIde posting ini muncul karena tweet Ilman Akbar, yang merefleksi cerita Si Doel Anak Sekolahan versi Rano Karno yang pernah tayang beberapa tahun lalu. Di cerita itu Doel setelah lulus menghadapi problema standar, kebingungan mencari pekerjaan. Kemana-mana melamar tanpa hasil. Sementara adiknya si Atun membuka salon dengan modal seadanya. Fokus cerita lebih berat kepada perjuangan Doel mencari kerja daripada upaya Atun membangun salon. Nggak salah memang, waktu itu memang pola pikir kebanyakan orang seperti itu. Belajar, lulus, mencari kerja, hidup nyaman, dst.

Saya sendiri melihat belum ada sinetron Indonesia yang punya nilai pesan moral kuat tapi sekaligus populer di mata pemirsannya. Setidaknya tidak sampai seheboh serial sinetron Doel di RCTI (dan lanjut di Indosiar) beberapa tahun lalu.

Di dunia fiksi ada yang namanya peremajaan karakter. Karakter serupa diredesain dan disesuaikan dengan kondisi zaman. Seperti Doel versi awal dulu dengan Benyamin S. (alm) sebagai Doel, warga Betawi, yang mencari kerja di kota. Era saat itu memang era awal urbanisasi, dengan karakter Doel mewakili para pencari nasib waktu itu. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan mengubah definisi karakter Doel menjadi seorang Betawi yang ingin kuliah tinggi dan mencari kerja seperti cita-cita kebanyakan orang saat itu. Bisa jadi, banyak keluarga yang terinspirasi dengan sinetron ini agar anak-anak mereka bisa lulus dan kerja dengan layak.

Nah, mari kita melihat kondisi sekarang. Banyak orang kesulitan mencari kerja. Yang antri berjuang saat ada bursa kerja ribuan orang banyaknya. Kalau kata Ciputra, jumlah pengusaha (alias pembuka lapangan kerja) di Indonesia ini masih sangat kurang. Pola pikir mahasiswa masih seperti Doel era beberapa tahun lalu. Segera lulus dan mencari kerja. Masih kurang yang punya keberanian (dan kemauan) untuk mengadu nasib menjadi seorang pengusaha.

Kalau Doel bisa menginspirasi pemirsanya saat itu, mungkin sudah saatnyakah tokoh Doel diremajakan lagi? Seorang Doel, anak Betawi, yang tidak luntang lantung keliling kota jakarta dengan bus mencari kerja setelah lulus. Namun seorang Doel yang berpikir jauh lebih kreatif. Doel yang misalnya, memanfaatkan potensi kelebihan kampung Betawinya dan mengubahnya menjadi daya tarik wisata. Seorang Doel yang membina teman-teman warganya di kampung untuk bisa mandiri melalui beragam karya budaya Betawi dan menjualnya ke manca negara.

Seorang Doel, mahasiswa S1, yang ikut membantu mengembangkan bisnis salon Atun menjadi lebih besar dan profesional. Seorang Doel yang megubah fungsi oplet-oplet mobil tradisional dari sekedar alat angkut menjadi transportasi budaya. Seorang Doel yang bisa mengangkat kampungnya dari sekedar kampung biasa yang terancam gusuran menjadi kampung wisata modern yang mendatangkan pendapatan bagi warganya.

Seorang Doel yang berani mengambil keputusan cepat dan tidak khawatir terhadap segala resiko yang muncul. Seorang Doel yang berani membuktikan di depan Babe dan Nyak kalau menjadi pengusaha adalah sebuah pilihan yang beresiko (namun bisa terkalkulasikan). Seorang Doel yang tidak gentar diomeli Babe dan Nyak, saat ia harus hidup susah terlebih dahulu sebelum akhirnya berhasil dalam bisnisnya.

Setiap orang butuh panutan. Tidak dipungkiri jutaan warga Indonesia menyimak berjam-jam sinetron setiap harinya. Sinetron penuh pertengkaran, konflik, iri hati, dendam, bentak-membentak, yang sangat tidak wajar dalam kisah sebuah keluarga. Siapa sih yang nggak suka dengan Doel? Siapa sih yang nggak terinspirasi dengan kisah Doel? Sudah saatnya kita butuh sinetron seperti Doel, namun tentunya dalam konteks yang lebih relevan dengan masa kini.

Hihi, siapa tahu Karnos Film baca tulisan ini…

Ruma Maida – Sebuah Film Tentang “His Story”

tontonan October 29th, 2009

preview7eSaya bisa sangat subjektif bercerita tentang film ini. Pertama, karena saya sudah pernah baca script versi awal film ini, yang ternyata alurnya masih 90% sama dengan versi film Ruma Maida yang saya tonton premiere-nya semalam. Kedua, karena saya (dan tim kantor saya) yang mengadaptasi film ini menjadi game (bisa dicek di www.rumahmaidagame.com). Haha, saya juga yang membuat naskah versi game-nya, yang memang sebagian besar dialognya diadaptasi dari script yang sudah dibuat oleh Ayu Utami. Saat pembuatan game-nya pun, saya dan tim kantor saya sempat berkonsultasi baik dengan Ayu maupun dengan produser film ini, untuk mendapatkan bayangan lebih banyak tentang visualisasi karakter dan tempat.

Saat saya menonton film ini semalam, saya beberapa kali tersenyum melihat elemen-elemen properti yang dimunculkan pula di game. Dari biola, ruang kelas dengan manekin peraga, peta Indonesia, foto-foto, dll. Saya juga sempat tersenyum mendengarkan nama-nama tokoh film yang muncul pula di dalam game-nya, seperti si protagonis Maida dan Sakera (yang saling membenci lalu jatuh cinta), tokoh Kuan (yang menjadi semacam guru/penasehat bagi Maida dan Sakera), tokoh Dasaad dan Ratu (yang menjadi antagonis dan memberikan kejutan di akhir cerita), hingga trio Keroncong Kemerdekaan yang menjadi salah satu kunci cerita baik di film maupun game-nya.

Saya ingat pesan Ayu dulu, kalau cerita game tidak melulu harus persis dengan film, karena dikhawatirkan malah akan membocorkan twist cerita di akhir film. Nah, jadi tenang saja, yang sudah bermain game Ruma Maida dan mendekati bagian akhir cerita, Anda nggak akan mendapat bocoran cerita tentang filmnya. Akhir cerita film Ruma Maida ini memang memiliki kejutan tersendiri yang berbeda dengan versi gamen-ya.

Lalu bagaimana dengan film Ruma Maida sendiri? Meski saya sudah tahu gambaran cerita keseluruhan film ini, saya tetap tertarik menonton film ini. Nggak banyak film Indonesia yang mengangkat pelestarian budaya. Film ini mengingatkan kalau semua bangunan itu punya nilai sejarah. Ada baiknya kalau kita bisa tahu lebih banyak akan sejarah sebuah bangunan, dan membangunnya di atas sejarah itu, dan bukan malah menghancurkannya.

Alur cerita film ini sendiri mungkin akan sedikit sulit dipahami oleh anak-anak, karena alur flashback yang terus berganti dengan masa kini. Kisah film ini mencakup 3 titik utama tonggak sejarah negeri ini, dari era Sumpah Pemuda, era penjajahan Jepang, hingga Reformasi 1998. Saya sendiri sempat bergidik saat melihat adegan kerusuhan 1998, karena peristiwa itu masih cukup membekas di benak saya.

Hal menarik lainnya dari film ini adalah pengambilan adegan bangunan yang sama namun dari era yang berbeda di atas. Versi tahun 1998 saat bangunan sudah hancur dan menjadi tempat belajar mengajar Maida dan anak-anak jalanan, dan versi tahun 1945 saat bangunan masih apik dan Sukarno sering berada di sini untuk mendengarkan alunan kelompok Keroncong Pulau Tenggara. Setiap era pun ditampilkan dengan warna yang berbeda, sehingga mudah mencerna kapan cerita ini berupa flashback dan kapan cerita kembali ke masa kini.

Film ini juga mengangkat pesan kepedulian sosial dan pesan kalau masih banyak anak jalanan yang terlantar dan belum mendapatkan kesempatan sekolah yang sudah menjadi haknya. Di film ini Maida mencoba menjadi jembatan, dengan secara sukarela mengajar dan menanamkan pesan-pesan moral kepada anak-anak jalanan ini.

Satu-satunya yang menurut saya agak kurang adalah penampilan tokoh Sukarno dan tokoh lama lainnya yang tidak terlihat bertambah tua, saat muncul di tahun 1928 dan di tahun 1945, sehingga sempat membingungkan pembacaan masa kisah terjadinya kejadian yang diceritakan.

Jadi, kalau saya boleh memberikan peringkat, film ini berhak mendapat 7 dari 10 bintang. :D

Gempa di Lantai 26

kisah September 3rd, 2009

Tulisan ini memang masih berhubungan dengan kejadian gempa kemarin. Saya dan rekan saya kemarin sedang berkunjung ke salah satu klien baru di Menara Thamrin. Kantornya ada di lantai paling atas, lantai 26. Sudah cukup lama saya nggak masuk ke gedung tinggi (yah wong kantor saya sendiri cuma 2 lantai).

Saat kami sedang di tengah meeting, rekanan saya sempat membaca di BB Messangernya, “gempa ya?” Belum sempat ia jawab, kami sempat merasakan goyangan pelan di meja. Sebelumnya saya sudah beberapa kali merasakan gempa, namun kecil, dan itu biasanya hanya di lantai 1 atau 2. Jadi saya kemarin masih berasumsi, “ah, sebentar lagi hilang.”

Orang-orang kantor yang meeting bersama kali pun tiba-tiba ke luar ruangan, karena ada teriakan temannya, “gempaa..” Saya dan teman saya masih di dalam ruangan, menaksir apakah gempanya akan segera berhenti. Saat ruangan semakin keras bergoyang, kami pun berlari ke luar ruangan. Teman saya pintar (tapi kok nggak ngajak-ngajak ya?). Dia sudah lari lebih dulu ke arah tangga. Saya dan para klien saya masih di luar ruangan, berpengangan di dinding.

Lantai pun masih bergoncang kencang. Terasa gedung berayun-ayun. Kami memutuskan, sesaat goyangan mulai memelan, kami akan berlari ke tangga. Ternyata, goyangan bukan semakin pelan, tapi malah mengencang. Tanpa tunggu apa-apa lagi, kami semua mencoba berlari ke arah tangga darurat. Beberapa kali kami berlari sambil terhuyung-huyung menahan goncangan, hingga akhirnya kami pun sampai di tangga darurat. Semua notebook dan tas masih saya tinggal.

Kami semua pun berjalan turun menyusuri 26 lantai ke bawah. Sesembari ikut berpengangan ke dinding atau tangga. Tangga darurat berada di dalam core bangunan yang seharusnya paling aman dari seluruh struktur bangunan. Namun tetap saja kekhawatiran tetap muncul. Di setiap lantainya, semakin banyak orang ikut turun menyusuri tangga. Untungnya tidak ada satupun yang panik. Beberapa orang berucap istighfar sepanjang perjalanan turun.

Saya mencoba menelpon teman saya yang entah ke mana. Namun telpon ke luar ternyata tak berfungsi. Saya segera SMS ke ibu saya, sekedar memberitahu posisi saya saat ini sedang ada di mana. Yah, seapes-apesnya kalau ada kejadian buruk, orang rumah bisa tahu saya ada di mana. Lucunya, meski telpon bermasalah. SMS sulit terkirim (meski akhirnya berhasil), namun GPRS lancar jaya.

Sembari turun, seperti anak social media fanatik lainnya, saya masih menyempatkan mengirim tweet. Menceritakan apa yang terjadi. Dalam perjalanan turun, saya akhirnya menemukan teman saya. Sekitar 15-20 menit, kami berjalan turun hingga sampai di lantai dasar. Lucunya, televisi di lantai dasar menayangkan CNN yang menceritakan tentang gempa di Indonesia (buset, cepat amat, saya saja belum ke luar bangunan).

Akhirnya kami semua sampai di luar bangunan. Menanti apakah akan ada gempa susulan. Lama kami menunggu. Mungkin sekitar 30 menit, sampai akhirnya saya dan teman saya memberanikan untuk naik kembali ke lantai 26, untuk mengambil notebook dan tas kami. Huhuhu, sambil tentunya berdoa semoga tidak ada gempa susulan. Kami pun, bersama orang-orang lainnya, masuk lift, mengambil barang sesegera mungkin dan turun kembali.

Kami menuju mobil dan ke luar kompleks Menara Thamrin untuk menghadapi cobaan berikutnya. Kemacetan tiada henti…

Kalau suka tulisan yang berbau social media tentang gempa, cek blog saya yang satu lagi saja ya.

G.I. Joe: Resolute

tontonan August 10th, 2009

Sebelum film layar lebarnya yang sekarang tayang di bioskop, franchise G.I. Joe mengeluarkan animasi seri terbarunya, G.I. Joe: Resolute, dengan 10 episode masing-masing berdurasi 5 menit, dan finale episode berdurasi 11 menit, di adultswim.com. Sempat tayang pula secara berseri di Cartoon Network US. Sekarang, animasi ini bisa pula didapatkan dalam format DVD. Hehe, ada juga sih versi Rapidshare-nya, tapi cari sendiri ya!

Animasi G.I. Joe ini ditulis oleh Warren Ellis (penulis komik senior + penulis serial Justice League-nya DC). Untuk yang nostalgia dengan animasi G.I. Joe tahun 1980-an, dan tentunya sekarang sudah beranjak dewasa, tentunya animasi G.I. Joe ini punya unsur ketertarikan tersendiri.

Pertama, karakter-karakternya tetap mempertahankan desain awalnya. Melalui animasi seri ini, seakan-akan kita melihat kelanjutan seri G.I. Joe tahun 1980-an, seri G.I. Joe - Sigma Six, dan beberapa lepasan DVD-nya. Seperti biasa, tokoh-tokoh dominan untuk G.I. Joe adalah Duke, Scarlett, dan Snake Eyes, sementara untuk Cobra adalah Cobra Commander, Destro, Baroness, dan Storm Shadow.

gijoeresolute

Kedua, berbeda dengan animasi tahun 1980-an yang cemen, yang saat itu tidak boleh ada kematian dalam serial animasi anak. Bayangkan, G.I. Joe dan Cobra terus-menerus bertempur tapi tidak ada satu orangpun yang tewas. Setiap pesawat hancur, pasti ada parasut. Tembak-tembakan ditunjukkan dengan laser tapi tidak ada yang terkena tembakan sama sekali. Ujung-ujungnya begitu dekat, yang ada hanya berupa pukulan. Bahkan, untuk era saat itu, serial animasi seperti ini pun sudah dianggap menuai kekerasan yang tak layak ditonton anak-anak. Di G.I. Joe: Resolute ini kita bisa melihat beberapa tokoh G.I. Joe dan Cobra tewas. Dari Bazooka (G.I. Joe), Major Bludd (Cobra), Storm Shadow (Cobra), dan Zartan (Cobra).

Ketiga, bobot cerita G.I. Joe - Resolute cukup berat. Nuansa teror yang diberikan Cobra sungguh nyata. Bayangkan, di film animasi ini, Cobra Commander benar-benar menunjukkan nyalinya. Tanpa ancaman basi, Cobra menghancurkan kota Moskow dan membunuh jutaan penduduk di dalamnya. Di versi animasi tahun 1980-an, cerita seperti tak akan bisa diwujudkan.

Mau lihat ceritanya? Ada nih webepisode-nya di YouTube.

Webepisode:

G.I. Joe: The Rise of Cobra

tontonan August 9th, 2009

Film G.I. Joe cukup menarik. Setidaknya jauuuh lebih logis, dan flow ceritanya lebih masuk akal daripada menonton Transformers 2: Revenge of the Fallen. Kedua film layar lebar ini adaptasi dari mainan (eh, tepatnya action figure) yang diproduksi Hasbro sejak tahun 1980-an.

Saya sendiri cukup familiar dengan kedua franchise tersebut, karena sejak kecil mengikuti kedua franchise film animasinya yang diputar di RCTI. Ada ratusan tokoh G.I. Joe masing-masing dengan keunikan desain kostumnya sendiri-sendiri. Namun di film layar lebar ini, tokoh G.I. Joe yang diangkat adalah 4 tokoh dominan yang selalu muncul di setiap franchisenya (Hawk, Duke, Scarlett, dan Snake Eyes) + 3 tokoh tambahan yang biasanya hanya menjadi pelengkap saja (Ripcord, Breaker, dan Heavy Duty). Untuk tokoh Cobra, karakter Destro yang menjadi pemimpin, dengan dibantu Baroness, Storm Shadow, dan Zartan. Ada karakter baru bernama Rex yang di akhir film menjadi kejutan tersendiri.

g_i_joe27

Film ini seakan-akan menjadi prolog sejarah pertempuran abadi antara G.I. Joe dan Cobra. Bahkan, di film ini, tidak spesifik disebutkan organisasi teroris bernama Cobra. Hanya nama Mars Industries, yang dimiliki oleh McCullen (lalu di akhir film dikenal sebagai Destro) yang mendukung finansial kegiatan teroris. Memang, cerita versi film ini berbeda dengan komik atau animasinya. Versi komiknya saja ada berbagai macam, dengan versi ceritanya masing-masing. Jadi, tidak ada patokan utama jalan cerita mana yang lebih benar.

Terlepas dari versi cerita mana yang lebih benar, tentu ada pakem-pakem tertentu yang selalu dijaga, agar kontinuitas karakternya tidak terlalu meloncat jauh dalam setiap versinya. Pakem-pakem franchise seri G.I. Joe yang dikenal antara lain:
- Ada kisah romansa (meski tidak terlalu terlihat) antara Duke dan Scarlett, dan antara Scarlett dan Snake Eyes. Versi komik menegaskan tentang hal ini, dan kalau sempat menonton animasi DVD G.I. Joe yang terbaru: Resolute, hal ini juga terlihat jelas.
- Di sisi Cobra, Destro dan Baroness adalah pasangan yang tak terpisahkan satu sama lain.
- Snake Eyes adalah saudara seperguruan dengan Storm Shadow. Karena aksi Storm Shadow yang dikenal licik, perguruan itu mengusir Storm Shadow. Di beberapa versi, Storm Shadow bahkan sempat bergabung dengan G.I. Joe.
- Cobra Commander bersuara parau, dan tak pernah terlihat wajah aslinya.
- Zartan beraksen Australia dan memiliki gang Dreadnoughts. Ia memang doyan bersiul dan terkenal akan kelihaiannya menyamar.

Beberapa pakem ini tetap dimunculkan dalam film layar lebar G.I. Joe ini. Hanya satu hal yang membuat gusar, kenapa Baroness harus pernah menjadi orang baik terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia bergabung dengan Cobra? Mengapa ia harus pernah menjalin hubungan dengan Duke? Di film layar lebar ini, bahkan romansa antara Duke dan Scarlett dihilangkan, dan diganti antara Scarlett dan Ripcord.

Terlepas dari kegusaran itu, film G.I. Joe layak ditonton. Ceritanya menarik, dan meninggalkan twist menarik di akhir film, yang tentunya memang dipersiapkan untuk sekuel selanjutnya.

Berprasangka Baik atau Buruk?

gawean, sekitar July 12th, 2009

trustworthySetelah membaca tulisan teman saya di blognya, dimana dia bercerita kalau dia mengandalkan kebaikan seseorang untuk memberikannya tebengan di jalan tol, setelah bus yang dia gunakan mengalami pecah ban. Kenyataannya, setelah menunggu cukup lama, ternyata masih ada pengemudi mobil yang tanpa curiga memberinya tumpangan. Bahkan si pengemudi menolak diberi imbalan saat sampai di tujuan.

Saya mencoba mengambil posisi dari sudut pandang si pengemudi itu. Kalau saya sendiri, sungguh, saya tidak akan mau berhenti untuk memberikan tumpangan kepada seseorang yang tidak saya kenal. Ini Jakarta gitu loh. Kalau sudah di jalan, saya selalu berasumsi yang terburuk. Di dalam otak saya, sudah terpatok pemikiran kemungkinan bahaya yang akan muncul kalau saya memberikan tebengan secara sembarangan kepada orang lain. Dirampok, diculik, dianiaya, atau bahkan mungkin dibunuh. Di sini saya berasumsi kalau semua yang di jalan itu punya niat buruk, meski kenyataannya bisa jadi nggak sama sekali.

Namun saya bisa bersikap kebalikan kalau dalam hal pekerjaan. Seorang teman yang dulu sempat bekerja sebagai orang keuangan di kantor saya, meminta saya untuk ikut mengawasinya saat menghitung uang. Ia khawatir kalau nanti ia malah disangka mengambil sejumlah uang dari kas. Lalu saya jelaskan kepadanya. Saat saya mengontrak seseorang untuk bekerja, di situ saya sudah mengambil sikap untuk percaya sepenuhnya akan kerja dan kompetensinya. Jadi, saya tidak perlu mengawasinya terus-menerus. Namun, jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan, karena begitu kepercayaan itu hilang, saya tidak akan mengontraknya lagi untuk satu pekerjaan apapun.

Nah, untuk Anda, bagaimana Anda mengambil sikap untuk berprasangka baik atau buruk terhadap seseorang yang Anda kenal dan tidak kenal?

Artikel ini ditulis juga di: http://ngerumpi.com/baca/2009/07/12/berprasangka-baik-atau-buruk.html

Cita-cita itu Selalu Berubah

gawean, kisah July 10th, 2009

waheguru-person-728596Saya termasuk orang yang tidak tahu apa yang saya cita-citakan sejak kecil. Bahkan hingga kuliah pun masih ragu akan pilihan profesi apa yang akan saya pilih.

Sewaktu SD di era beredarnya video sewaan Voltus V, God Sigma, Mazingga Z, dll *kalau nggak tau, coba cari-cari di buku sejarah Indonesia*, selalu ada tokoh pencipta robot yang bergelar Profesor. Saking kagumnya dengan mobil/pesawat yang bergabung menjadi robot besar, saya pun bercita-cita menjadi seorang Profesor. Saya bahkan sempat tanyakan ke Bapak saya, “Pak, kalau mau jadi Profesor, biar bisa bikin robot-robot kayak gitu, nanti itu masuk apa ya?” :))

Saya sendiri sudah doyan menulis dan menggambar sejak kecil. Di buku tulis AA yang entah sudah terbuang di mana, saya sempat menulis kisah fan-fiction saat robot-robot di atas bersatu padu melawan musuh besar. *maklum, imajinasi berlebihan*

Di SD juga suka beredar buku kenangan, dimana setiap teman diminta untuk mengisi nama, alamat, telpon, cita-cita, dan kata kenangan. Huahaha, biar gak malu, saya selalu menulis kolom cita-cita sebagai seorang insinyur *meski nggak ngerti juga insinyur itu apa*.

Bapak saya dulu lulusan Sipil UGM. Ini sedikit menginspirasi saya saat meninggalkan SMA. Setelah lulus SMA saya masih bingung sebetulnya, mau jadi apa saya nanti. Namun, pilihan harus diambil, jadi jurusan Arsitekturlah yang saya ambil. Setidaknya dekat dengan Sipil, dan bisa menyalurkan hobi coret-coret saya.

Saat kuliah, nilai saya biasa-biasa saja. Sambil sesekali berpikir, apa benar saya ingin menjadi seorang arsitek? Karena toh tugas-tugas studio saya nggak bagus-bagus amat. Jawaban pun muncul saat saya Kerja Praktek. Saat latihan magang di salah satu biro konsultan di Bandung, saya langsung tahu. Saya nggak suka pekerjaan seperti ini. Kok nggak fun ya? Mungkin saya yang salah tempat magang, tapi apapun itu, akhirnya membuat saya ragu untuk berprofesi sebagai arsitek.

Ajakan teman-teman sehobi dalam membuat komik menjadi cikal bakal pemilihan profesi. Kami membangun studio kecil dan membuat cukup banyak komik. Bahkan sempat pula berita tentang kami muncul di Kompas halaman tengah besar-besar. Saya berpikir, inilah cita-cita yang saya senangi. Namun ternyata ada hambatan lain. Uang. Di negeri ini, membuat komik tidak bisa membuat seseorang jadi kaya. Serius.

Saat itu pula saya dan teman-teman dalam studio kembali bimbang. Dua orang dari kami pun akhirnya mundur dan kantor kami pun setengah bubar jalan. Ibu saya menyarankan saya untuk mendaftar saat tes Pertamina (kebetulan Ibu saya pensiunan Pertamina). Duh, malas besar. Prinsip saya, saya lebih memilih pekerjaan yang menyenangkan terlebih dahulu, pendapatan menyusul. Prinsip itu memang berbuah kegagalan (dalam hal komik). Namun bukan berarti saya lalu tertarik masuk menjadi seorang pegawai di BUMN yang jelas-jelas akan membuat kehidupan saya lebih terjamin.

Saat ibu saya pensiun, ia diajak bergabung membentuk perusahaan dengan temannya. Si Direktur perusahaan itu sempat mengajak saya untuk bergabung. Ia ingin agar saya terlibat di dalamnya. Sekali lagi, saya menolak. Terus terang, saya nggak suka bidang yang mereka kerjakan, yaitu dunia geologi dan perminyakan. Saya lebih tertarik akan dunia kreatif. *bandel banget ya, dikasih kesempatan ditolak terus*

Saya beserta 2 orang teman yang tersisa mencoba tetap melanjutkan usaha yang kami bentuk. Tanggung, kami sudah 3 tahun hidup kere. Kami memutuskan untuk mencoba satu tahun lagi, Kalau gagal, ya sudah. Namun, kini kami lebih berfokus pada multimedia, dengan sedikit mengesampingkan idealisme. Ternyata arahan ini yang benar.

Kini kami tinggal berdua, karena 1 teman mengundurkan diri karena ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Kami berdua yang tersisa memutuskan untuk tetap maju. Saat itu pertumbuhan internet mulai menanjak, blog mulai dikenal. Saat saya memulai blog saya 4 tahun lalu itulah perlahan-lahan saya mulai mendapatkan jalan yang benar. Jalan yang tidak menghalangi prinsip saya dalam bekerja, dengan tetap memberikan penghasilan. Uang? Alhamdulillah, itu tidak (belum) lagi menjadi masalah.

Sekarang saya ingin menemukan cita-cita saya selanjutnya. Saya belum tahu apa. Saya hanya akan mencoba mengikuti arah hidup ini berjalan saja (seperti biasanya).

Kalau kalian, apa cita-cita kalian sejak kecil? Apakah kini cita-cita kalian sudah tersampaikan? Apakah cita-cita kalian juga selalu berubah seperti saya?

Membeku

imajinasi March 24th, 2009

Aku masih merasakan keringat dingin yang mengucur di keningku. Tanganku berasa dingin. Badanku pun berasa dingin. Seluruh tubuhku kini bergoncang, tak bisa menahan kehororan di hadapanku. Aku mencoba menutup mata, namun otak ini serasa tak berfungsi. Pencerahan pikiran yang kudapat saat berenang lantas hilang seketika. Aku hanya berdiri gamang di tepian kolam, tak bisa berpikir apa-apa.

Aku melihat semua orang itu yang telah membeku seketika. Di kolam, di tepian kolam, di tempat duduk nun jauh di sana. Semuanya beku. Es putih berkristal menutupi seluruh badan mereka. Menakutkan, ekspresi mereka seperti tak terkejut sama sekali. Semua seperti terjadi seketika. Air kolam yang semula biru pun kini tertutup es tipis. Uap dingin menyeruak dari sela-sela retakannya. Angin dingin mulai terasa menyeruak, menambah horornya suasana.

Aku mengambil nafas panjang. Memejamkan mata dan membukanya kembali, sembari mengembalikan kecerahan pemikiranku. Saat itulah aku baru tersadar. Tunggu, mengapa aku baik-baik saja? Mengapa aku tidak ikut membeku seperti mereka?

Aku mencoba menyusuri tepian kolam, melintasi es tipis yang kini semakin banyak bermunculan. Aku mengangkat diriku ke luar kolam. Terduduk sejenak sambil kembali menatap kolam yang kini berubah menjadi sekumpulan es tebal. Aku pun berdiri. Masih terus tergidik, aku pun berlari. Aku menggapai handuk dan baju sambil terus berlari.

Aku merasakan angin dingin terus menusuk. Angin dingin menderus semakin kencang. Di sayup-sayup aku berlari, aku mendengar suara desiran angin di belakangku. Aku menoleh, dan kembali terdiam. Di tebalnya angin kencang, aku melihat sesosok bayangan melayang. Bayangan itu terus semakin mendekatiku. Aku hanya terdiam, tak bisa bergerak, meski angin kencang dingin menerpaku. Aku terlalu takut untuk membayangkan apa di balik bayangan itu.

Aku masih terdiam, saat bayangan itu berubah menjadi kenyataan. Seorang perempuan cantik berbaju hitam dan beranting besar terbang melayang terus mendekatiku. Ia menatapku tajam. Tangan kanannya yang memegang bunga lili menunjukku.

“Kamu harus ikut denganku. Angin dingin es ini hanya satu dari awal bencana yang akan terjadi di hari depan. Keberadaan kamu penting untuk keselamatan dunia,” kata perempuan itu.

Aku hanya tergugup dan tak bisa berkata apa-apa. Kebingungan semakin melanda pikiranku.

“Kamu harus percaya padaku. Kamu punya peranan penting dalam menyelamatkan mereka semua,” lanjut perempuan itu dengan misterius.

Aku tak bisa berpikir apa-apa. Namun entah kenapa, aku hanya mengangguk dan mendekatkan telapak tanganku ke bunga lili yang dipegangnya.”

“Terima kasih,” katanya.

(Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan karakter tertentu).

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang
Bagian 3: Menatap
Bagian 4: Mendingin

Mendingin

imajinasi March 23rd, 2009

Aku menggerakkan tanganku. Kanan dan kiri, bergantian mengayuh air, agar tubuhku terus bisa melaju. Sekali nafas yang aku ambil, terus aku tahan, agar aku bisa semakin lama merasakan air dingin menyapaku di dalam kolam berair biru ini. Pikiranku mulai tenang. Membayangkan, memikirkan, merencanakan segala hal. Air dingin membuat semuanya terasa jernih, meski semuanya bertaburan acak di benakku.

Aku menatap jauh ke hadapanku. Aku terus melaju, menempuh jarak yang tak seberapa jauh ini. Semakin tenang pikiranku, semakin cepat aku bergerak. Mendekati ujung, aku mulai mengambil nafas panjang, dan memasuki air lebih dalam hingga dadaku menyentuh dasar kolam. Aku mulai menikmati kesepian. Hanya suara gelembung udara dari mulut saja yang menjadi temanku. Kedua tanganku pun menyentuh ujung kolam. Aku mulai memejamkan mata, mengangkat badan, seakan melompat keluar dari permukaan kolam, sembari mengambil nafas lebih panjang.

Aku mulai mendengarkan, meski mataku masih terpejam. Kolam yang semula cukup ramai manusia ini tiba-tiba menyepi, tanpa suara sama sekali. Saat kubuka mata, aku hanya bisa menatap terkejut. Kulitku yang masih berasa dingin ini pun mulai bergidik. Keringat dingin mulai mengucur dari keningku. Sungguh kehororan yang tak bisa kulukiskan dengan mudah.

“Astaga, mereka semua… Mereka semua berubah menjadi es.”

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang
Bagian 3: Menatap

Menatap

imajinasi March 16th, 2009

Pria tua itu duduk tenang dalam ruangan tertutup yang terterangi cahaya bulan. Sengaja lampu ia padamkan, karena saat itu purnama bersinar terang. Kacamata terlihat di dahinya. Ia memijat-mijat matanya, lalu kembali menatap monitor bergambar jeruk di hadapannya.

Pria itu terus menatap monitor seperti menunggu sesuatu akan terjadi. Ia mengambil rokok hitam yang masih menyala di asbak, memainkannya, dan menghisapnya. Nafas yang memburu mengikuti asap dari mulutnya. Matanya kembali menatap ke luar, memperhatikan cahaya bulan yang semakin menguning. Tak lama, rentetan bunyi bip terdenar dari monitor di hadapannya.

Pria itu lalu membuang sisa rokok ke asbak, mengelus perutnya yang gemuk, dan berdiri. Ia membenarkan celana katungnya. Tongkat jati berukiran naga yang tersandar di dekat kursi pun dibawanya. Sambil tertatih-tatih, ia pun berjalan keluar berpandu tongkat. Matanya silau saat menatap cahaya lampu di ruangan luar.

Pria itu lalu menyapa perempuan cantik yang turun dari langit dengan anggunnya. Bunga lili putih terlihat digigit perempuan itu pada tangkainya.

“Lama sekali sih kamu datangnya..”

(Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan karakter tertentu)

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang