Bengong Tanpa Internet

gawean, ngalur ngidul February 29th, 2008

Seperti di posting sebelumnya, kehidupan saya sehari-hari nggak bisa lepas dari internet. Baik itu karena urusan gawean. Baik itu karena urusan main-main, hingga kesempatan saya belajar dan bereksperimen.

Sudah berniat saya pagi-pagi (pagi-paginya saya jam 10.00 hehehe…) berangkat ke kantor, karena ada masalah dengan power supply komputer di rumah yang menjadi gateway ke Fastnet. Karena tak bisa berinternet di rumah, saya pun berniat melanjutkan gawean di kantor (tipikal saya memang males pergi ke kantor).

Sesampai di kantor, ternyata eh ternyata koneksi Speedy setengah hidup dan mati. Sempat hidup dan saya bisa mengupdate beberapa revisi desain yang diminta klien. Namun belum selesai, koneksi Speedy tewas seutuhnya. Ndak bisa connect ke sambungan IIX, apalagi ke luar negeri.

Untung masih ada koneksi 3G dari IM2. Namun nggak lama, looh, ndak bisa connect ke luar negeri. Koneksi ke IIX pun sempat semaput. Loh, apa ini. Kok semua mati? Akhirnya terbengong-bengong di kantor karena ndak bisa ngapa-ngapain. Rekan saya pun malah memilih tidur karena ia tidak bisa mengerjakan apa-apa. Namun, untunglah sebelum malam tadi koneksi sudah berjalan kembali, dan hutang revisi bisa sesegera mungkin diselesaikan. Baik koneksi Speedy dan IM2 berjalan normal kembali.

Saya jadi ingat dulu kala pas banjir bandang Jakarta belum setahun lewat. Hidup ala manusia purba. Tanpa listrik, tanpa telepon, tanpa handphone, tanpa internet, tanpa WC, tanpa mandi, dan dengan makanan terbatas. Itu hanya 3 hari dan sudah nggak tahan. Saya sesekali sempat menghidupkan notebook barang sejenak, untuk mengurangi rasa kangen. Terbatasnya masa hidup batere membuat saya menyalakan notebook hanya untuk mengetik. Tidak berani saya menyetel lagu, apalagi memutar film, karena khawatir batere menjadi boros.

Haha, saya sudah menjadi manusia modern tulen rupanya. Nggak akan bisa lagi disuruh kembali ke zaman gelap.

Kasihan…

guyon February 29th, 2008

Kasihan benar yang berultah di hari ini (29 Februari). Kalo saja ada teman seumuran saya yang berultah di hari ini, usianya baru menginjak 8 tahun. Usia 8 tahun, tapi wajahnya tua. Hahaha…

Ada yang berultah di hari ini? Umur berapa sampeyan sekarang?

Sebaran Viral Ulang Tahun

ngalur ngidul February 26th, 2008

BirthdaySeorang yang ulang tahun (ultah) sebenarnya bukan hal yang aneh. Kirim selamat via SMS, ato mungkin telepon langsung barang sejenak sudah cukup mewakili diri kalo kita itu perhatian dengan si yang berultah. Yang menarik di hari ini (Selasa), bila penyebaran info ultah itu dari mulut ke mulut, ato kalo di dunia tukang tulis seperti kita, dari komentar blog ke komentar blog. 

Saking banyaknya yang mengirim SMS ultah, hingga balasan SMS ke saya dari yang ultah adalah sebagai berikut, “Suwun mas! Wah viral bener.”

Hihi, bahkan kalo saya menyebar viral lucu-lucuan untuk kampanye brand pun efeknya nggak pernah bisa secepat ini. Ya, ini memang terjadi kalo yang yang berultah adalah seorang blogger kondang. Itu artinya, si blogger kondang disayangi banyak orang. Satu blogger menulis tentang ultah, diikuti lagi oleh blogger lainnya. Gaung pun bersambut, hingga info ultah tersebar via YM dan SMS.

Andaikan ada sebuah brand ato produk kondang yang disayangi oleh banyak target konsumennya, seharusnya efeknya bisa terjadi serupa ya?

Semua Cinta Cinta Laura

dolanan February 25th, 2008

Rasanya nggak habis-habisnya menemukan sesuatu yang baru di dunia maya ini. Apalagi kalo itu menyangkut si cantik Cinta Laura. Ya, semua pasti sudah tau kerjaan cahandong yang nggak ada kerjaan itu. Lalu ada lagi versi Wiki lainnya yang nggak kalah membahas Cinta Laura, meski bahasannya nggak setajam bahasan cahandong. Semua juga gampang menemukan topik blog yang pake kata Cinta Laura di dalamnya. Lalu, sudahkah sampeyan ikut bergabung pula di Facebook groups-nya Cinta Cinta Laura?

Nah, ini ada satu lagi yang punya waktu lebih luang daripada cahandong. Di blog Monyet Pinter, sampeyan bisa bikin badge lucu-lucuan tentang Cinta Laura. Sampeyan bisa belajar bahasa Chincca Lawra, karena ada alat super canggih yang bisa membantu sampeyan di blog ini.

Ini contohnya. Diterjemahkan dari bahasa “Saya Tampan Seperti Kamu.” Brilian bukan?


www.fjbex.com

Lurah+Camat yang Minta Duit Itu…

sekitar February 22nd, 2008

tikus.jpgSaya kembali lagi mengalami posisi terjepit. Demi sebuah surat keluar, ujung-ujungnya keluarlah duit. Mau nggak bayar, yah suratnya dibutuhkan. Kekesalan sempat terjadi. Namun seperti biasa, penanda tangan suratlah yang lebih berkuasa. Setidaknya, saya punya media blog ini untuk berbagi cerita kekesalan.

Diawali dengan saya diminta mengurus surat domisili perusahaan teman untuk mendapatkan NPWP. Sudah pada tau kan, kalo sekarang rumah ndak boleh dijadikan tempat usaha? Alias, hanya tempat-tempat yang dinyatakan Dinas Tata Kota sebagai peruntukan komersial saja yang boleh dipakai sebagai tempat usaha. Sebetulnya ini peraturan lama yang sudah sejak dulu ada saat saya kuliah. Hanya saja, pengetatan peraturannya baru saja terjadi di tahun 2008 ini.

Tempat usaha teman saya di Apartemen xxx Tanjung Duren. Persisnya di fasilitas umumnya, yang artinya, tempat usaha yang peruntukannya sudah tepat, karena bukan di hunian. Kepengurusan dimulai ke kantor kelurahan Tanjung Duren, dengan menyerahkan segala kelengkapan dokumen.

Siangnya, saya pun ditelepon oleh Wakil Lurah, yang dengan sok akrabnya memanggil saya dengan sebutan “Babe.” Ngomong kesana kemari, terkait dengan peraturan di atas, yang sudah saya ketahui sebelumnya. Saya pun sudah cerita, kalau kantor itu tidak menempati area hunian, melainkan di fasilitas umum berjejer dengan toserba, fitness centre, dan kegiatan usaha lain.

Ujung-ujungnya, kembali ke soal biaya. Saya sendiri ndak tau biaya resmi proses pembuatan domisili, tapi dari tanya sana tanya sini, saya mengerti kalau biayanya paling mahal sekitar Rp. 500.000,-. Seperti sudah diduga, si wakil lurah pun langsung menembak dengan harga tinggi, Rp. 1.500.000,-.  Katanya, pokoknya beres sampai dengan Kecamatan. Kalo ok, dia akan buat suratnya dan akan proses segera ke Wakil Camat.

Tak ada tawar-menawar. Pilih mau ato nggak. Akhirnya saya mengiyakan, sambil mengelus dada, “Duh, saya membiarkan diri saya terlibat hal seperti ini lagi.” Katanya, nanti sore bisa beres. Saya tinggal siapkan bayarannya saja.

Karena sorenya saya tidak bisa ke Kelurahan, saya putuskan untuk datang keesokan harinya saja. Keesokan paginya, saya hubungi kembali Wakil Lurah tadi. Ia lalu bilang, kalau ternyata ia minta uang tambahan lagi, karena biaya Rp. 1.500.000,- itu sudah terpakai untuk Kecamatan (alias Wakil Camat). Karena di surat domisili ini, ia ikut tanda tangan, ia merasa mengambil resiko (yang menurut saya tidak ada, karena toh kantor teman saya itu menempati tempat komersial sesungguhnya).  Jadi, ia pun minta sekedar uang rokok saja. Astaga, pikir saya..

Siangnya saya ke Kelurahan, mengambil surat domisili sambil memberikan bayaran Rp. 1.500.000 +++ ke sekretaris Kelurahan (karena si Wakil Lurah tidak mau menerima langsung). Si sekretaris pun saat menerima bayaran berkata, kalau ia hanya menerima saja dan tidak mau ambil tau berapa jumlahnya. Sepertinya, ia sudah terbiasa dititipkan oleh Wakil Luran untuk hal-hal seperti ini. Selembar surat domisili dengan 2 tanda tangan penguasa daerah kecil dengan harga yang luar biasa mahal.

Hal-hal seperti inilah yang membuat saya dari dulu selalu menghindar bila berurusan dengan pemerintah daerah atau aparat kepolisian. Saya selalu menyerahkan segala sesuatunya ke orang lain. Saya cuma tau beres. Soalnya, kalo tau dan terlibat langsung di dalamnya (seperti kasus ini), benar-benar bikin sakit hati. Mau anti KKN, tapi pada posisi yang dilemahkan.

Hal-hal seperti ini pulalah yang membuat saya selalu menghindar bila ada tawaran tender dari BUMN atau pemerintah. Daripada beban moral saya besar saat berhadapan dengan KKN, lebih baik tidak usah berhubungan sama sekali.

Yang Lucu di Blogger Luncheon with Corolla

guyon February 20th, 2008

Nah, kalo orang lain posting tentang acara Blogger Luncheon cuma satu kali di blognya, saya berbaik hati. Saya tulis 2 kali, satu di blog biasa. Satunya lagi di sini. Yang di sana itu serius. Yang di sini ndak ada seriusnya.

Saya dateng terlambat, jadi makan nggak bisa banyak-banyak, padahal menunya menggiurkan. Haha, yang penting di sini, saya bisa mengamati Paman Tyo berfoto kemana-mana mengumpulkan bahan gombalan di blognya. Ternyata Paman yang duitnya meteran itu masih kalah kaya dibanding Ndoro Kakung. Ini bukti-buktinya.

Komik1

Komik2

Komik3 

(Semua tokoh di foto ini adalah nyata, namun diceritakan dengan maya, alias ngasal).

Kekuatan Super Saya

imajinasi February 19th, 2008

heroes.jpg

Nggak mungkin dong belum ada yang nonton Heroes? Kalo memang belum juga, wis ya sampeyan emang ndak gaul. Sana cari dulu DVD bajakannya! Atau download episode terbarunya (Season 2 episode 11) di banyak forum yang tersebar di ranah internet ini.

Seperti di film Heroes itu, hampir semua tokohnya punya kekuatan super yang unik. Nah, saya sempat berpikir, semua orang kan punya kelebihannya masing-masing, bahkan yang mungkin si orang itu ndak sadari sendiri. Memang nggak seekstrim tokoh Hiro yang kekuatannya bisa melintasi raga fisik dan waktu, tapi pasti adalah sesuatu hal kecil yang setiap orang punyai dalam dirinya yang membuatnya berkesan “super.”

Atau jangan-jangan sampeyan sendiri sudah sadar kekuatan “super” sampeyan, tapi takut dipamerkan? Sampeyan khawatir kalo ada orang seperti Sylar atau agen FBI dari negeri Om Sam sana yang akan mencomot sampeyan untuk dijadikan tes percobaan? Siapa tau kalo sampeyan mau berbagi kekuatan “super” sampeyan, kita malah bisa bergabung membentuk satu liga super hero pembasmi kejahatan.

Nah, saya akan mulai dengan diri saya. Saya punya beberapa kekuatan “super” ini:

  • Saya bisa mendengar frekuensi bunyi yang cukup rendah, meski tidak rendah-rendah banget, karena saya toh bukan anjing.
  • Saat terkadang setengah sadar/mimpi, saya suka mendengar dan terganggu oleh hal-hal yang bersifat gaib.
  • Sering bulu kuduk saya berdiri saat memasuki tempat-tempat gelap yang mungkin ada penunggunya (termasuk di dalam rumah saya sendiri).
  • Pernah beberapa kali, apa yang saat ini saya lamunkan, beberapa menit kemudian hal itu terjadi (seperti deja vu). Hal ini tidak sering sih, tapi saya ingin tau apakah hal ini bisa dilatih?

Nah, saya ndak tau kalo sampeyan. Sampeyan siapa tau punya kekuatan-kekuatan lain yang berbeda. Pasti ada dong yang punya indra penciuman yang sangat sensitif, sampai bau ketiak orang di seberang lapangan bola pun tercium. Lalu pasti ada pula yang mampu membaca pikiran temannya, atau minimal saudara dekatnya. Saya ndak tau, gimana kalo sampeyan aja yang cerita di sini?

Kamu Bisa Apa? - Bagian 2

gawean, narsis February 18th, 2008

Baca ini untuk cerita sebelumnya.

T: Wah, kamu kok bisa macam-macam ya?

J: Itu belum seberapa, Tuan. Saya juga lihai mendesain dan memahami teknis berbagai macam software desain. Saya pun sudah terbisa mendesain web dengan menggunakan CMS unggulan seperti Drupal, Joomla, atau Wordpress. Saya juga lumayan paham pola produksi audio visual, terutama untuk pengerjaan animasi dan video.

T: Kok bisa-bisanya kamu paham segitu banyak hal?

J: Yah, prinsip saya Tuan, saya harus tau segala sesuatu semuanya - meski nggak terlalu detil - sebelum saya menyerahkan pekerjaan ini ke anak buah saya. Saya jadi bisa mengukur sendiri seberapa sulit atau mudahnya sebuah pekerjaan.  Intinya, saya nggak akan mengalokasikan pekerjaan ke anak buah, kalau saya sendiri nggak ngerti lingkup pekerjaannya seperti apa.

T: Lalu apa dong yang kamu nggak bisa?

J: Haha, banyak Tuan. Saya sampai sekarang nggak bisa main musik.

Sekali lagi, itulah lanjutan wawancara saya dengan si Pitra (entah kapan wawancara narsis seperti ini akan berakhir).

Ngeblog untuk Jual Diri

narsis February 16th, 2008

Setiap kali saya ditanya kenapa saya ngeblog, pasti saya akan jawab, “Ngeblog itu untuk jual diri kok.” Loh kok malah jadi jual diri? Secara nggak langsung, bukankah apa yang kita tulis di blog adalah opini dan pemikiran diri kita sendiri, dan bukan orang lain? Jadi apa namanya dong kalo itu bukan jual diri?

Kalo di blog saya yang satu lagi, saya jualan kompetensi saya. Saya cerita-cerita kalo saya mengerti tentang topik yang saya tulis di sana. Kalo blog saya dibaca oleh orang yang tepat, ya Alhamdulillah, berarti berkah buat saya dan kantor saya. Artinya, ada peluang mendapat proyek dari ngalur ngidul saya di blog itu. Atau minimal, dengan saya blogging di sana, semakin menambah jaringan perkenalan saya di dunia maya, terutama dengan mereka-mereka yang berkecimpung di dunia serupa.

Nah, kalo di blog ini saya jualan apa? Haha, kalo di sini saya jualan pribadi saya.. Siapa tau gara-gara blog ini, saya semakin kenal dengan pribadi-pribadi lain yang serupa. Dan siapa tau juga gara-gara blog ini, ada seratus calon jodoh saya yang membaca dan terus mengikuti blog ini, hingga akhirnya saya semakin dimudahkan karena cukup memilih 1 saja dari 100 pilihan itu. Haha.. Bermimpi boleh dong…

Learn to Step Back

gawean February 15th, 2008

Kadang-kadang ada waktunya kita harus mengalah, menjaga diri agar tidak terlalu menunjukkan kehebatan kita. Tujuannya, agar spotlight beralih ke orang lain yang lebih membutuhkan.

Salah satu contohnya, ada seseorang menjadi pembicara di seminar, dan memang ia cukup kompeten di bidang itu. Tapi sampeyan, yang diakui sejagad raya ini memang lebih kompeten di bidang yang sama, ikutan jadi peserta dalam seminar ini. Sampeyan lalu ikut-ikutan menonjolkan diri dengan ikut-ikutan bertanya atau memberikan komentar yang malah menjatuhkan si pembicara. Saking egoisnya sampeyan, hingga akhirnya topik pembicaraan seminar jadi beralih ke diri sampeyan. Kasihan kan si pembicara. Spotlight-nya diambil oleh sampeyan. Padahal dia sudah berusaha keras agar menjadi seseorang yang berhasil di seminar ini.

Suatu waktu, ada kalanya kantor saya sudah bekerja keras untuk menggapai sesuatu. Namun, karena keegoisan pihak lain yang ingin unjuk gigi, spotlight yang sudah lama kami ingin coba raih langsung runtuh seketika. Padahal, belum tentu ia punya solusi yang lebih baik. Kadang-kadang kita harus ingat bahwa tidak semua kesempatan terbuka itu layak kita ambil. Bisa jadi, kesempatan yang ada itu adalah jatah bagi orang lain yang memang sudah saatnya layak ia terima.

Saya jadi ingat pelatihan internal yang dulu di kantor. Saking kebiasaannya saya berperan menjadi pemimpin, saya sampai lupa maksud dari pelatihan itu sendiri, yaitu menumbuhkan bibit kepemimpinan di antara staf kantor. Melalui pelatihan ini, justru saya malah diminta untuk mengalah. Biarkan spotlight kepemimpinan muncul dari staf-staf sendiri. Hal inilah yang terus mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati saat unjuk diri.

Learn to step back, katanya. Tidak melulu spotlight itu untuk sampeyan sendiri. Bisa jadi banyak yang lebih layak menerimanya daripada sampeyan, hanya tidak pernah mendapatkan kesempatan.