Tiba-tiba blog ini kok jadi banyak komentar motivasi seputar entrepeneurship ya? Wehehe, padahal ini niatnya blog santai. Ya wis, saya cerita-cerita dikit lagi tentang pengalaman saya. Oh ya, ini saya ngetiknya pada hari Rabu, waktu jam kerja, di rumah, alias sambil bersantai dan cari ide web baru (hihi, jangan pada iri ya..). Sembari di komputer satu lagi sedang asyik mengunduh serial animasi DVD-nya Dilbert. Recommended loh…
Dulu kala isi kantor kami hanya berlima. Ya, pendirinya semua, merangkap produksi, jualan, sampe, bersihin rumah yang dijadiin kantor. Lama-lama karena mau semakin lebih profesional, kami menambah tim produksi, membayar staf akunting dan HRD. Lama-lama jumlah staf tetapnya semakin banyak. Masalahnya, kalo banyak, lalu semuanya punya banyak skill sih nggak apa-apa. Wong kerjaan kantor kami, agak berlompat-lompat, meski masih pada jalur kreatif. Dari desain, ngerjain animasi, web, hingga video.
Hehe, nah nggak ada staf yang bisa multi tasking di banyak tempat seperti itu. Padahal bisa jadi kerjaan desain lagi kosong, tapi kerjaan web lagi penuh. Akibatnya, staf desain pada menganggur jadinya.
Saat itu tempat produksi kami di Bandung, dan kami punya perwakilan marketing di Jakarta. Overhead setiap bulan pun semakin besar. Kalo dipikir sekarang, gila ya, berapa banyak duit terbuang untuk overhead itu. Kantor pun semakin membesar. Dari sewa rumah kecil hingga akhirnya sewa rumah besar 2 lantai di Bandung. Di Jakarta sih sewa ruang kecil saja, karena hanya ada 2 orang di situ.
Akhirnya, tibalah keputusan efisiensi. Kami akhirnya memutuskan untuk pindah total ke Jakarta. Wong kliennya semua ada di Jakarta. Staf yang tertarik pindah ke Jakarta, kami ajak. Ternyata nggak semuanya tertarik ke Jakarta. Ya sudah, kami anggap fresh start saja di Jakarta.
Kini kami cuma punya tim kecil. Tidak lebih dari 9 orang di kantor sewa kecil di Mampang. Yang kami andalkan sekarang lebih ke network SDM yang luas. Makanya, jangan tanya ada berapa freelancer yang sering membantu kami. Untungnya, overhead bulanan mengecil, yang artinya semakin besar keuntungan untuk kami yang punya. Freelancer yang dibayar per proyek tidak membebankan overhead. Kalo ada project, ya baru di-hire. Masalah fee freelancer yang biasanya lebih besar daripada fee staf bulanan nggak terlalu masalah. Toh, dia hanya dibayar kalo ada projectnya.
Makanya, kalo ada yang tanya, “Mas, di Stratego lagi buka lowongan nggak?” Kami akan jawab, “Kami akan selalu buka lowongan. Kalo skill kamu cocok dengan projectnya, ya kenapa tidak ikutan ngebantu.”
Oh ya, sebagai pemilik perusahaan, mempunyai segudang skill layaknya seorang dewa juga sangat membantu. Hihi, kalo terpaksa dan tidak terlalu sulit, kenapa nggak dikerjakan sendiri saja. Maksudnya ya, berhubungan dengan klien, mengerjakan desain produksi, hingga ngurus penagihan ke klien semua dikerjakan sendiri. Kecuali keuangan dan pajak ya. Kalo bagian itu jangan deh dipegang sendiri, karena bisa bikin sakit mata.
Share This