Ada Yang Lucu di Situs Depkominfo

guyon March 27th, 2008

DepkominfoPagi-pagi tadi di YM oleh teman saya, yang memberikan link berikut: http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita_kominfo&view=1&id=BRT080326204201. Sengaja link nggak dinyalain, biar nggak ke-trackback. Hehehe..

Intinya, nikmati guyonan hack ini dulu. Cepet, sebelum dihapus. Mengenai siapa yang jadi model di situ, wah, sampeyan tebak-tebak buah manggis aja sendiri.

Untuk rekan-rekan Depkominfo, kok ya bisa sih kebobolan kayak gini? Mumpung RUU-nya sudah disetujui, seharusnya kan yang kayak begini bisa dihindari. Btw, jangan tanya saya siapa yang buat n bertanggung jawab tentang hal itu, karena saya pun tidak tahu. Begitulah, kalo berita menyebar di internet memang sedemikian cepatnya.

Hihi, saya yakin pula. Tak lama setelah posting ini muncul, pasti berita tersebut sudah dihapus.

Liburan Pendek di Yogya

kisah, ngalur ngidul March 23rd, 2008

Kebetulan banget pas libur kemarin ada tebengan ke Yogya. Antara jadi dan tidak, karena kekurangajaran klien yang memberikan revisi mendadak, akhirnya Kamis kemarin berangkat juga ke Yogya. Untung nggak nyetir, wong mata cuma 5 watt gara-gara tidur ayam nggak sampai 3 jam di malam sebelumnya.

Hoho, ternyata eh ternyata, sodara, jalan tol macet parah. Serasa lebaran. Perjalanan melalui jalur utara membutuhkan waktu 64.800 detik alias 18 jam. Menyenangkan bukan? Jam 12.00 malam tepat sampai di kediaman Eyang di Yogya. Untunglah, 1 menit lewat saja, mobil panther yang saya tebengi pasti akan berubah jadi labu.

Jumat malam, saya membujuk Momon agar saya bisa kenalan dengan teman-teman CahAndong Yogya. Entah menyesal ato tidak akhirnya saya bisa berkenalan dengan mereka. Dari beberapa topik percakapan dengan Anto, kok ya yang saya inget ketika dia ‘meracuni’ saya untuk tidak lagi melihat Maria Ozawa. Ia merekomendasikan nama-nama pemain JAV lainnya yang saya nggak inget nempel di otak, kecuali Sara Aoi. Mungkin Anto bisa ulangi siapa saja mereka? Hehe..

Maafkeun saya yang pelupa kalo soal nama-nama. Meski wajah bisa diingat (kecuali kalo udah pada ganti rambut ato tumbuh brewok ato pake cat kuda terbang di mukanya), tapi kalo tanpa name tag ato kartu nama, saya suka lupa. Hehe, jadi saya ingetnya cuma nama Zam, Pepeng, Ekowanz, Gunawan, Gandung, Fany (yang ternyata berwajah lebih maniez daripada dugaan), bintang tamu Mas Yahya. (Akhirnya… Wiki yang dibuat CahAndong ada gunanya, untuk bikin referensi seperti ini). Dan tak lupa, si blogger yang nggak pernah fokus, sodara Tikabanget.

Sekali lagi, maafkeun, yang lainnya, karena nama-nama kalian saya (ter)lupakan. Sudilah sekiranya mereka yang dateng (dan saya lupakan) mengabsen di komentar bawah. Biar saya inget.. Hehe..

Kebetulan juga ada beberapa blogger Loenpia dateng di kumpul-kumpul ini. Mereka semua lagi bersekutu untuk melakukan aksi jalan-jalan ke Candi Ratu Boko di Sabtu keesokan harinya. Karena saya tidak bisa dateng untuk acara jalan-jalan itu, saya habiskan waktu malam dengan obrolan berguna (ato tidak ya?) dengan rekan-rekan CahAndong.

Sayang saya nggak bawa kamera. Maunya minta foto dokumentasinya dari Eko ato Anto. Boleh ya? Boleh.. Saya bisa comot di mana?

Thanks eniwei atas obrolan-obrolannya. Hehe, buat saya, udah jarang banget bisa ngobrol nggak mutu seperti malem itu. Jadi serasa mahasiswa lagi…

Dilbert, Versi DVD-nya

tontonan March 17th, 2008

DilbertSudah tau dong siapa itu Dilbert? Serial comic strip Dilbert karya Scott Adams ini sempat diangkat ke versi animasi seri. Kini baru aja tuh DVD complete set 2 season-nya keluar. Versi animasinya tidak jauh berbeda dengan versi comic strip-nya. Tokoh Dilbert tetaplah seorang engineer pintar, hobi mengembangkan inovasi, geek, dan anti sosial.

Ada si Dogbert, anjing teman Dilbert yang haus kuasa, smart, tapi peduli dengan Dilbert. Ada karakter Larry, engineer pemalas yang datang ke kantor hanya karena agar tidak dipecat saja (ato bahkan si perusahaan juga males kali mecat Larry?). Lalu ada Alice, seorang wanita keras superior yang bisa “kejam” terhadap rekan kerjanya. Dan terakhir, si Boss, sang atasan yang sebenarnya bodoh tapi selalu mencoba menutupi kebodohannya.

Nah, saya belum sempet nonton semua serinya sih. Namun baru beberapa episod saya tonton, saya sudah ngakak habis. Guyonan animasi ini bener-bener satir. Secara ekstrim diceritakan betapa sebalnya para engineer dengan para marketing. Setiap produk inovasi para engineer pasti dibantai oleh staf marketing.

Contohlah, saat Dilbert cerita kalo ia punya ide membuat “underwater barbeque.” Ide ini disetujui tim marketing, asalkan produk ini tidak mengandung kata “underwater” dan “barbeque.” Hehe, sebetapa pintarnya ide keluaran engineer, tetap aja tim marketing akan menolaknya. Bahkan ada satu kantor yang gara-gara membuat divisi marketing, malah membuat para engineernya bunuh diri. Padahal sebelumnya, tanpa divisi marketing, para engineer hidup senang dalam bekerja.

Ada lagi cerita saat tim perusahaan tempat Dilbert ini bekerja melakukan brainstorm untuk mencari inovasi produk baru. Flow produksi diacak-acak di sini. Hihi, saking satirnya, si Boss bahkan minta agar tim menentukan lebih dahulu nama produknya, bahkan sebelum tau apa itu jenis produknya, apa itu fungsinya, siapa target pembelinya. Proses memilih nama pun diceritakan dengan satir. Hehe, pokoknya kalo sampeyan itu bekerja sebagai engineer, kerja di cubicle sempit, punya boss nggak becus, dan tiap hari terlibat dalam keputusan manajerial, animasi Dilbert ini cocok banget untuk sampeyan.

Daripada ngetawain boss sampeyan n kena resiko dipecat, mending ketawa nonton Dilbert deh!

Nggak Perlu Kantor Gede & Karyawan Segunung

gawean March 12th, 2008

Tiba-tiba blog ini kok jadi banyak komentar motivasi seputar entrepeneurship ya? Wehehe, padahal ini niatnya blog santai. Ya wis, saya cerita-cerita dikit lagi tentang pengalaman saya. Oh ya, ini saya ngetiknya pada hari Rabu, waktu jam kerja, di rumah, alias sambil bersantai dan cari ide web baru (hihi, jangan pada iri ya..). Sembari di komputer satu lagi sedang asyik mengunduh serial animasi DVD-nya Dilbert.  Recommended loh…

Dulu kala isi kantor kami hanya berlima. Ya, pendirinya semua, merangkap produksi, jualan, sampe, bersihin rumah yang dijadiin kantor. Lama-lama karena mau semakin lebih profesional, kami menambah tim produksi, membayar staf akunting dan HRD. Lama-lama jumlah staf tetapnya semakin banyak. Masalahnya, kalo banyak, lalu semuanya punya banyak skill sih nggak apa-apa. Wong kerjaan kantor kami, agak berlompat-lompat, meski masih pada jalur kreatif. Dari desain, ngerjain animasi, web, hingga video.

cartoon4.jpgHehe, nah nggak ada staf yang bisa multi tasking di banyak tempat seperti itu. Padahal bisa jadi kerjaan desain lagi kosong, tapi kerjaan web lagi penuh. Akibatnya, staf desain pada menganggur jadinya.

Saat itu tempat produksi kami di Bandung, dan kami punya perwakilan marketing di Jakarta. Overhead setiap bulan pun semakin besar. Kalo dipikir sekarang, gila ya, berapa banyak duit terbuang untuk overhead itu. Kantor pun semakin membesar. Dari sewa rumah kecil hingga akhirnya sewa rumah besar 2 lantai di Bandung. Di Jakarta sih sewa ruang kecil saja, karena hanya ada 2 orang di situ.

Akhirnya, tibalah keputusan efisiensi. Kami akhirnya memutuskan untuk pindah total ke Jakarta. Wong kliennya semua ada di Jakarta. Staf yang tertarik pindah ke Jakarta, kami ajak. Ternyata nggak semuanya tertarik ke Jakarta. Ya sudah, kami anggap fresh start saja di Jakarta.

Kini kami cuma punya tim kecil. Tidak lebih dari 9 orang di kantor sewa kecil di Mampang. Yang kami andalkan sekarang lebih ke network SDM yang luas. Makanya, jangan tanya ada berapa freelancer yang sering membantu kami. Untungnya, overhead bulanan mengecil, yang artinya semakin besar keuntungan untuk kami yang punya. Freelancer yang dibayar per proyek tidak membebankan overhead. Kalo ada project, ya baru di-hire. Masalah fee freelancer yang biasanya lebih besar daripada fee staf bulanan nggak terlalu masalah. Toh, dia hanya dibayar kalo ada projectnya.

Makanya, kalo ada yang tanya, “Mas, di Stratego lagi buka lowongan nggak?” Kami akan jawab, “Kami akan selalu buka lowongan. Kalo skill kamu cocok dengan projectnya, ya kenapa tidak ikutan ngebantu.”

Oh ya, sebagai pemilik perusahaan, mempunyai segudang skill layaknya seorang dewa juga sangat membantu. Hihi, kalo terpaksa dan tidak terlalu sulit, kenapa nggak dikerjakan sendiri saja. Maksudnya ya, berhubungan dengan klien, mengerjakan desain produksi, hingga ngurus penagihan ke klien semua dikerjakan sendiri. Kecuali keuangan dan pajak ya. Kalo bagian itu jangan deh dipegang sendiri, karena bisa bikin sakit mata.

Jadikan Tukang Ojek sebagai Kurir

sekitar March 10th, 2008

Ini praktik berhemat untuk sampeyan yang punya kantor kecil. Kalo kantor-kantor besar umumnya punya seorang OB yang bisa merangkap sebagai kurir untuk mengantar paket ato dokumen sampeyan. Kalo seperti saya, yang amat jarang kirim dokumen dan hanya punya ruangan sewa yang kecil, rasanya jadi hambur uang kalo butuh OB/kurir.

Kebetulan saya kenal dengan seorang tukang ojek. Setiap kali lewat selalu bertegur sapa. Suatu waktu, saya tawarkan saja ke dia untuk mengantar dokumen berisi CD ke klien. Mulanya tentu agak khawatir, takut nggak sampai. Makanya, saya sertai surat jalan atau tanda terima. Saya minta si Bang Boim (si tukang ojek) untuk mengantar dokumen itu dan meminta si penerima untuk membubuhkan tanda tangannya di surat yang saya berikan.

Sejam kemudian si Bang Boim pun kembali. Katanya paket sudah diantar. Surat tanda terima bertanda tangan pun dikembalikan ke saya. Saya sempat cek ke klien, untuk membuktikan itu. Leganya, dokumen diterima dengan baik oleh si klien. Kepercayaan ini membuat saya tidak perlu bercapai-capai ria mengantar dokumen sendiri. Cukup saya titipkan Rp. 15.000 - Rp. 20.000 (tergantung jarak), dan dokumen pun bisa diantar dengan selamat.

Saya kini malah jarang menitipkan surat tanda terima. Toh, setelah paket diantar, Bang Boim lalu mendatangi saya dan menyampaikan sendiri kepada saya kalo paket sudah diantar dengan selamat.

Hehe, daripada saya harus menggaji seorang kurir, lebih baik saya memanfaatkan tukang ojek di sekitar saya. Hitung-hitung bagi rejeki lah. Kalo kita baik dengan sekitar kita, kita juga yang nanti dilindungi, kalo terjadi apa-apa dengan diri kita.

Mau Pake Speedy, Pak?

ngalur ngidul March 7th, 2008

Ceritanya di hari libur Nyepi ini, ada yang masih bekerja giat kejar setoran. Soalnya, ada sales dari Telkom menelepon ke rumah menawarkan paket Speedy. Kebetulan saya yang jawab, sambil iseng-iseng ‘membantai’ Speedy.

Sales: Bapak tertarik menggunakan Speedy?
Saya: Saya sudah pake internet lain, Mbak.
Sales: Pake apa, Pak?
Saya: Saya pake Fastnet.
Sales: Kenapa pilih Fastnet, Pak?
Saya: Ya, jelas karena lebih cepat dan lebih murah,
Sales: Tapi kan itu pake modem ya, Pak. Kalo ada gangguan cuaca, koneksinya suka putus kan?
Saya: Nggak tuh. Minggu lalu bukannya malah Speedy yang sempat putus sehari?
Sales: Iya, Pak. Hari Jumat. Bukan sehari, tapi cuma tujuh jam. Itu kesalahan bukan di kami, Pak, karena ada gangguan di Palembang.
Saya: Oh gitu. Speedy di kantor saya memang putus, tapi Fastnet di rumah saya nggak putus tuh. Lancar-lancar aja.
Sales: Oh gitu ya, Pak. Terima kasih atas perhatiannya.

Hehe, bukannya saya mengagungkan Fastnet daripada Speedy. Hanya saja, saya coba cerita sesuai kenyataan yang saya alami. Maaf ya, untuk pegawai Telkom ato ISP lain yang mo menelepon dan menawarkan produknya ke saya. Kalo itu nggak murah dan nggak lebih cepet daripada Fastnet, saya ndak akan tertarik. Sebaliknya sama pula dengan Fastnet, kalo nanti suatu waktu kualitasnya menurun, saya juga nggak akan sungkan beralih ke lain hati.

Masa Kuliah Dulu

kisah, narsis March 6th, 2008

Setelah lihat foto-foto koleksi Gerakan Mahasiswa 1978 ITB ini kok ya jadi inget masa-masa kuliah dulu. Wow, sudah sejak 1 dekade lalu saya meninggalkan kuliah S1 di Arsitektur ITB. Masa-masa yang lumayan membahagiakan. Hanya pada masa kuliah itulah saya bisa bersosialisasi dan berkomunitas. Teman-teman satu angkatan sudah seperti keluarga. Apalagi teman-teman yang sudah satu jurusan kuliah, satu rumah kontrakan bareng. Hehe, kalo inget, rumah kontrakan kami saat itu sudah seperti base camp angkatan saja (terutama yang cowok).

Sebenarnya ada banyak koleksi foto saya waktu kuliah dulu. Wong saya juru foto angkatan. Tapi entah dimana semua koleksi foto itu. Maklum, waktu itu masih masanya rol film, belum digital. Kumpulan foto sempat dipajang di seluruh partisi studio kuliah. Kebanyakan memang foto-foto lucu-lucuan seputar kegiatan kami.

Di luar yang dipajang, sebetulnya banyak pula foto kumpulan angkatan yang kontroversial. Hehe, maksudnya foto-foto pada masa kami MAD (masa adaptasi diri) dulu. Wuih, serem-serem lah pokoknya. Botak-botak, telanjang dada penuh lumpur, punggung beset-beset, kaki memar, bau, dan penuh keringet. Siap ngajak gelut lah pokoknya. Haha, namanya juga abis OS. Semua foto ini sempat disensor dan tidak dipajang di depan anak-anak baru. Biar nggak pada ketakutan dengan OS gitu.

Hal yang paling saya inget adalah pada saat saya tugas akhir bersama teman-teman angkatan. Kami sempat khawatir kalo kami tidak akan bisa menikmati kelulusan. Saat itu tahun 1998, dan masanya reformasi. Penembakan Trisakti membuat kami semua stres dan khawatir. Akankah hal ini bisa terjadi di kami keesokan harinya? Tidak ada yang tidur saat itu. Bukan karena begadang seperti biasanya, tapi semua bingung, khawatir, sekaligus penasaran apa yang akan terjadi keesokan harinya.

Kekhawatiran belum berakhir. Kerusuhan 1998 di Jakarta membuat banyak kami perantau asal Jakarta dibuat cemas. Waktu itu belum ada yang namanya hape. Yang ada, antrian wartel di Student Centre penuh dengan kecemasan mahasiswa yang berusaha menghubungi keluarganya di Jakarta. Apalagi rumah saya, yang tidak jauh dari tempat kerusuhan berlangsung. Hihi, jadi ingat. Asisten rumah tangga saya di rumah jadi dapet jatah jarahan daging dari Hero Tomang yang dibakar massa.

Saya juga ingat, saya baru selesai asistensi dengan dosen kepala pembimbing. Masih menenteng-nenteng lembaran gambar, langsung ke Ganesha, mengikuti demo, dan bergerak bersama ke Gedung Sate. Di saat yang sama, saat itu pulalah di Jakarta, Gedung MPR/DPR diduduki mahasiswa. Wuih, 5 tahun kuliah benar-benar kenyang. Hehe, bukan hanya kenyang materi kuliah, tapi kenyang berdemo dan ikut menyaksikan perubahan besar di negeri ini.

Eniwei, sedikit aja nostalgia. Ini ada beberapa cuplikan flashback saya dan teman-teman.

Cari yang mana saya hayoo!
N cari juga yang mana teman saya, salah satu aktivis dunia online pula!
Di salah satu foto ini juga ada blogger senior itu!
Dan terakhir, di salah dua foto ini, juga ada komikus internasional loh!

Kuliah Kuliah2 Kuliah3 Kuliah4

Mending Dorama daripada Sinetron

tontonan March 4th, 2008

Saya itu penonton film sejati, meski kadang waktu suka membatasi saya berkelana ke bioskop untuk menonton film terbaru. Namun pada akhirnya apa yang diputar di bioskop umumnya akan saya tonton versi DVD-nya. Seperti generasi muda lainnya (walah, saya muda?) saya sebal melihat sinetron. Kecuali itu sitkom bermutu seperti OB ato cerita anak bermutu seperti Oneng, acara sinetron lainnya nggak ada yang sedap ditonton.

Jelas kebanyakan cerita sinetron sangat mengada-ada, dengan karakter yang absurd, dan tidak memberikan pesan positif sedikitpun. Pemilihan casting pemain pun suka sesuka hati. Nenek, ibu, dan cucu tidak ada perbedaan umur jauh. Kalo melihat mereka, saya selalu bertanya, “Busyet, ini ibunya ngelahirin di umur berapa ya? 10 tahun?” Belum lagi cerita bertele-tele berdasar rating, dan saat rating menurun, cerita diakhiri dengan begitu saja dalam 1-2 episod.

Di lain sisi, saya termasuk yang cukup menggemari dorama Jepang. Selain alasan basi seperti pemain mudanya yang cute, ada sesuatu yang sangat bernilai positif di dalamnya. Memang sih, nggak semua dorama Jepang itu bermutu, karena ada pula yang ceritanya murahan. Setidaknya dari beberapa dorama bermutu yang saya tonton, ada benang merah menarik di baliknya. Semuanya membangun rasa kesemangatan tinggi, perjuangan gigih untuk mencapai suatu target ato prestasi, apapun itu profesi yang digeluti karakter dalam cerita. Lagi pula, semua dorama itu dibatasi dalam episode tertentu, maksimum 13 episod, dengan flow cerita yang diatur menarik, tanpa paksaan popularitas rating di baliknya

Attention PleaseYang paling menarik di antara seri dorama yang pernah saya tonton adalah Attention Please! Dorama yang diperankan penyanyi Aya Ueto ini berkisah tentang seorang remaja awut-awutan bernama Misaki Yoko yang berniat menjadi pramugari. Disiplin ketat di pelatihan Japan Airlines (JAL) mengubah perilaku awut-awutan ini dan membentuk kepribadian Misaki menjadi lebih baik. Cerita ini sekaligus mengangkat profesi pramugari JAL. Menjadi pramugari bukanlah menjadi seperti seorang pelayan restoran di udara. Pelatihan mental menghadapi penumpang saat situasi kritis di pesawat udara lebih memegang peranan penting daripada sekedar melayani teh ato kopi.

Setelah menonton ini, saya lalu jadi membandingkan perilaku pramugari di penerbangan kita dan apa yang ditunjukkan di dorama ini. Sungguh sangat berbeda. Saya nggak yakin kalo para pramugari penerbangan kita perlu menempuh sedemikian besar pelatihan dan cobaan seperti yang ditunjukkan di dorama ini.

Shimokita Glory DaysDorama menarik lainnya adalah Shimokita Sundays. Jangan disamakan dorama ini dengan cerita kampungan dorama berjudul mirip, Shimokita Glory Days ya. Dorama seri Shimokita Sundays bercerita tentang sekumpulan klub drama kecil di kota kecil Shimokita. Dorama ini mengusung pesan kalau idealisme dan mimpi itu bisa dicapai, asal seseorang punya spirit dan tekad untuk mengembangkannya. Dimulai dari klub drama yang bisa dibilang gagal dengan pengunjung yang sedikit, hingga akhirnya cukup tenar di Shimokita, tanpa mereka menggagalkan identitas mereka dan terbawa arus komersialisme. Jangan berpikir ini dorama serius. Dorama ini cukup lucu kok. Banyak adegan tawa di balik ceritanya.

Teppan Shoujo AkaneAttack No. 1Dua dorama menarik lainnya adalah Teppan Shoujo Akane dan Attack No. 1. Kalo Teppan Shoujo Akane berkisah tentang seorang SMU drop out yang memilih meneruskan karir ayahnya di dunia permasakan. Sementara Attack No. 1 berkisah tentang para remaja SMU yang dipilih untuk bergabung dalam tim nasional Jepang. Konflik dan tantangan mental fisik dihadapi para anggota tim agar mereka bisa menjadi tim voli wanita nomor satu di dunia. Kedua dorama ini diangkat dari cerita manga, dan mengangkat bahasa-bahasa visual anime di dalamnya.

Bukan memunafikkan karya bangsa sendiri, tapi kenapa sinetron kita tidak mengambil pesan positif yang tersirat dari seri dorama Jepang ini? Melalui cerita-cerita seperti ini, bukankah secara nggak langsung akan memberi semangat pada para pemirsanya untuk berprestasi lebih gigih? Perjuangan mencapai suatu tujuan itu tidak ringan, dan butuh kerja keras. Bukannya dengan cara tipu menipu dan rebutan warisan kekayaan seperti yang terjadi di cerita sinetron sekarang ini.