Nggak Semua Orang Pajak Bermasalah
sekitar June 5th, 2008
Kalo dulu saya sempet ngedumel soal bikin Surat Domisili di Kelurahan yang menyebalkan, karena kutipannya yang nggak main-main tingginya. Kali ini saya memuji staf Dinas Pajak yang mewakili daerah Tanjung Duren Jakarta.
Ceritanya saya mo bikin PKP (Pengusaha Kena Pajak). Karena sebagai warga yang baik, katanya harus taat pajak hehehe.., makanya perusahaan kami pun mengajukan permohonan PKP. Proses permohonan tidak bermasalah. Kasih aja selengkap-lengkapnya, dari fotokopi akte perusahaan, SIUP, TDP, Surat Keputusan dari Departemen Kehakiman, NPWP perusahaan, NPWP dan KTP pengurus dan pemilik perusahaan. Kalo berkantor di gedung sendiri, sertakan bukti PBB. Kalo berkantor di gedung orang, sertakan surat kontrak gedung.
Katanya akan dilakukan survei dari Dinas Pajak paling lama 3 hari setelah permohonan diajukan. Ternyata, keesokan paginya saya ditelepon akan ada 2 orang Dinas Pajak yang akan datang siang untuk mengecek keberadaan fisik kantor. Wah, monggo aja deh. Silakan datang. Si pemeriksa juga meminta tambahan fotokopi KTP para pegawai. Yang agak libet, ternyata saya diminta pula menyerahkan fotokopi PBB dari pemilik gedung. Walah, ini main-main ato ngerjain ya?
Siangnya mereka berdua pun datang. Ngobrol-ngobrol, ngecek kelengkapan, foto-foto lokasi, tanda tangan dsb dsb. Mereka berharap saya bisa menyerahkan fotokopi PBB dari pemilik gedung saat itu juga. Katanya supaya pemrosesan bisa dilakukan hari ini, dan besok surat PKP sudah bisa keluar. Setelah memohon ke pemilik gedung, akhirnya bisa didapat pula fotokopi PBB. Aman…
Yang lebih menggembirakan, ternyata sampai pemeriksaan selesai, tidak ada tanda-tanda permintaan ‘kutipan.’ Wah, saya terus terang masih ragu. Meski saya sudah menyiapkan ‘amplop,’ saya mencoba tetap berasumsi bahwa bisa jadi saya berhadapan dengan orang yang punya integritas. Untunglah asumsi saya benar. Sama sekali tidak ada embel-embel ‘minta uang’ ataupun bahasa serupa lainnya hingga selesai.
Saya sempat ceritakan hal ini ke ibu saya yang lebih berpengalaman tentang hal ini. Ibu saya malah berasumsi kebalikan. Saya jadi ragu, apakah gara-gara saya tidak memberikan ‘amplop,’ permohonan PKP saya akan ditolak. Yah, kita tunggu saja besok.
Hari Kamis ini saya baru bisa menyempatkan diri datang ke Dinas Pajak. Ternyata permohonan PKP sudah jadi dan saya tinggal ambil. Hebatnya, dari awal permohonan hingga saya menerima PKP, saya tidak mengeluarkan uang apapun, kecuali untuk kebutuhan fotokopi dokumen.
Salut deh. Semoga saja integritas seperti ini terjadi pula di kantor-kantor pajak lainnya. Mudah-mudahan…
About


ini namanya good news pak pitra!
memang begitu seharusnya, pak… saya ndak mau cerita yang suram soal kerjaan saya, tapi saya juga ndak mau menutupi yang hitam, namanya juga oknum, semoga jumlah oknum makin dikit dan bisa ilang….
saya link tulisannya ya…
“..suatu saat semoga saya bisa bangga tidak menjadi kaya hanya karena kerja di sana…”
….. nanti waktu itung-itungan pajak yang harus dibayar, biasanya ada yang nawarin, Pak Pitra mau dibantuin biar itungan pajaknya bisa berkurang tapi tetap legal (bukan penggelapan) ?
angpaw sih nggak seberapa bila dibandingkan jasa “konsultasi” yang kaya gitu, he… he……