Kalau Kita Gagal

gawean June 2nd, 2008

Nggak semua yang kita (atau tepatnya saya) lakukan itu sempurna. Suatu waktu pasti akan berhadapan dengan kegagalan. Kegagalan yang bikin sebal, kesal, ‘gondok’ di hati, mau marah, tapi ya apa boleh buat, nggak bisa diapaapakan lagi karena semua sudah terjadi.

Buat orang yang merasa dirinya sudah sempurna, tidak pernah gagal sekalipun, di saat ia menerima sesuatu yang sedikit lebih buruk, itu sudah membuatnya pusing setengah mati. Saya jadi ingat, teman SMA saya dulu yang nilainya selalu bagus. Suatu waktu ia mendapat nilai 6, hal yang buat saya sebetulnya hal yang biasa..hehe.., namun buat dia itu menjadi pukulan, karena ia khawatir dimarahi orang tuanya. Belum pernah ia mendapat nilai 6 sebelumnya.

Kalau Kita Gagal

Semakin banyak kita gagal, sebetulnya akan mendekatkan diri kita dengan realita. Bahwa nggak semua bisa didapat dengan mudah. Yang perlu dilakukan berikutnya adalah mencoba memikirkan solusi agar kegagalan itu nggak terjadi lagi berikutnya.

Saya pun sempat pernah kesal, stres, karena mengalami kegagalan berturut-turut. Saya merasa kalau hari itu hari yang naas. Meski sudah menyiapkan beragam skenario untuk beragam antisipasi, ternyata masih saja ada yang luput dari prediksi. Mengumpat memang bisa menghilangkan stres, meski tidak bisa menjadi solusi. Namun yang lebih penting, dari kegagalan itu. saya bisa menambah alternatif skenario lain yang harus saya siapkan bila saya menghadapi kondisi serupa di masa depan.

Nah, bagaimana dengan sampeyan? Sehebat apapun sampeyan, kalo sampeyan masih manusia yang nggak sempurna, sampeyan pasti akan menemukan kegagalan. Bagaimana sampeyan menyikapi kegagalan sampeyan?

Memperkaya Pengetahuan Konsep dan Teknis

gawean, ngalur ngidul May 21st, 2008

puzzleTantangan mendasar setiap tahun yang biasa saya dan kantor saya hadapi adalah kewajiban meng-update pengetahuan dan teknologi baru. Tujuannya, selain untuk lebih kemudahan pekerjaan, juga untuk menjadi aset ilmu yang bisa ‘dijual’ sebagai bagian dari konsep ke klien. Saat saya ‘jualan’ konsep yang berhubungan dengan online branding atau online campaign suatu brand tertentu, tentunya saya nggak bisa ‘jualan’ yang saya nggak bisa buat. Ide bisa segudang, tapi kalau nggak bisa dieksekusi ya sama juga bohong. Tambahan lagi, kalau bisa dieksekusi tapi biayanya mahal juga nggak bisa dipakai.

Untuk belajar pun membutuhkan waktu. Mulai dari membaca, hingga mencoba eksekusinya, akan makan cukup waktu. Kalau belajar terus dan nggak ‘jualan’ juga nggak mungkin. Makanya, tantangan terbesar adalah bagaimana bisa selalu memperkaya diri dengan pengetahuan terbaru, bisa dipelajari dalam waktu singkat, membutuhkan biaya rendah, tapi bisa menghasilkan nilai plus plus plus di mata klien. Hihi, susah ya? Then, welcome to my world!

Dalam kaitannya dengan pengerjaan sebuah website, misalnya. Konsep strategi menyeluruh sebuah campaign biasanya adalah akumulasi belajar saya dan rekan-rekan saat membaca pola-pola yang dilakukan brand di luar sana. Saya sendiri sudah nggak sempat lagi membaca buku. Yang bisa saya lakukan hanya membaca rutin beberapa blog terkait, seperti Adverblog atau AdRants.

Dari sisi teknis, saya mencoba rutin mempelajari hal-hal yang relevan dengan Drupal dan Flash. Saya nggak akan sempat belajar banyak content management system (CMS), apalagi mengembangkannya sendiri dari awal. Saya pilih 1 yang bisa diandalkan dan semaksimal mungkin belajar mengeksplorasinya dari sana. Dengan mencukupkan diri belajar selama 1 bulan lewat, akhirnya saya dan rekan-rekan saya berhasil membuat sebuah situs komunitas dengan framework Drupal. Belajar cukup 1 CMS yang eksekusinya bisa dijalankan untuk banyak jenis website.

Saat mengajukan konsep sebuah online campaign, sering kali usulan yang disampaikan nggak akan bisa lepas dari teknologi Flash. Sekarang bagaimana caranya mempelajari aplikasi Flash sedalam-dalamnya supaya bisa dipakai untuk beragam kebutuhan. Kenapa Flash? Karena pekerjaan saya dan rekan-rekan bukan hanya berurusan dengan website. Kami juga mengerjakan beragam aplikasi untuk kegiatan below the line. Lebih efisien jika kami memanfaatkan teknologi yang bisa fleksibel dipakai untuk banyak kebutuhan.

Semakin banyak belajar, baik konsep maupun teknis, akan sangat membantu dalam mengajukan ide-ide ‘ajaib’ yang bisa dieksekusi.  Memang sih, dalam kenyataannya, mendapatkan ide ‘ajaib’ jauh lebih mudah daripada mengeksekusinya. Pada hakikatnya, kita sebetulnya memang nggak perlu sampai belajar sedalam mungkin sisi teknis. Namun, bukan berarti pembelajaran di sisi teknis tidak dibutuhkan. Kalau kita mengerti sisi teknis (meski tidak dalam), setidaknya kita bisa mendapat gambaran logika seberapa jauh ide ‘ajaib’ yang kita punya itu bisa dilaksanakan. Jadi, nggak terlalu mengawang-awang tanpa ada pijakan sama sekali ke tanah.

Bakar! Semuanya Bakar!!

gawean April 17th, 2008

bakarItu pekerjaan yang saya sempat lakukan minggu lalu. Membakar dokumen-dokumen yang menumpuk di gudang dan tak terpakai. Nggak bisa diloakin karena isinya kebanyakan adalah kontrak-kontrak lama dan dokumen pelamar kerja yang numpuk nggak pernah dibuang. Hihi, mudah-mudahan yang pernah melamar ke kantor saya dan tidak diterima, nggak keberatan ya saya bakar semua dokumen CV dan lain-lainnya. Soalnya, kalo didiamkan dan malah dijual ke tukang loak, saya malah khawatir bisa disalahgunakan oleh yang tidak berkepentingan.

Eniwei, siapa nyangka proses bakar membakar dokumen ini menghabiskan keringat yang luar biasa. Bukan karena capek, tapi memang karena puanass buangett.. Tukang loak beberapa kali lewat, minta kalo itu kertas numpuk dalam satu dus dikasih aja ke dia. Wah, maaf Pak. Ini memang harus saya bakar. Kalo boleh saya loakin, sih akan saya loakin.

Maaf untuk para pecinta lingkungan. Maklum, gak punya paper shredder.

Kalo Presentasi Gagal…

gawean April 3rd, 2008

Pernah nggak sampeyan - terutama yang doyan presentasi ke depan klien, tiba-tiba entah sebab musabab apa, presentasi tersebut menjadi gagal? Misalnya, tiba-tiba notebook yang dipake sampeyan untuk presentasi tiba-tiba mati. Ato misalnya, file presentasinya nggak kebawa, ato pun beragam kekonyolan lainnya lah.
‘left”
presentationHehe, hal serupa baru saja kejadian dengan saya. Sudah bikin janji dengan si calon klien. Sudah gotong-gotong komputer berat plus proyektor berat untuk demo kecanggihan Floor FX (lihat iklannya di blog saya yang satu lagi). Lalu sudah setting beragam alat sensor, tiba-tiba jreet, loh kok tampilannya nggak muncul. Apa yang ditangkap kamera sensor tidak seperti biasanya. Kalo biasanya terlihat hitam putih, kini tiba-tiba terlihat warna abstrak biru. Belum pernah saya melihat hal seperti ini sebelumnya. Pusing bin mumet langsung saya di tempat klien. Padahal, sekitar 2 jam sebelumnya, segala sesuatunya sudah kami persiapkan dengan matang di kantor, dan tidak muncul satu masalah pun.

Saya nggak terlalu memikirkan alatnya. Pasti itu masih bisa saya benerin (kalo memang ada yang salah). Yang lebih saya khawatirkan, apa yang saya janjikan ke klien nggak ke-deliver. Saya lebih khawatir lagi, bagaimana si klien itu bercerita ke boss-nya, kalo presentasi tidak jadi dilaksanakan gara-gara kesalahan teknis pada alat saya. Duh, dengan berat hati saya pun terpaksa meminta maaf. Saya cuma berharap kalo saya dikasih kesempatan untuk presentasi lagi di lain waktu (meski keputusan itu terserah si klien, dan saya nggak bisa maksa). Mudah-mudahan nama saya juga nggak tercoreng klien gara-gara peristiwa ini,

Untunglah, sorenya setelah saya hampir sampai ke kantor kembali, saya ditelepon oleh si klien. Saya dikasih kesempatan untuk presentasi lagi keesokan paginya. Pagi yang benar-benar pagi, yakni jam 9.00 (wah, pagi bangeet ya, menurut saya). Tapi ya ndak apa-apa. Masih untung saya dikasih kesempatan kedua.

Lucunya apa coba. Setelah sampai di kantor, karena penasaran, saya pasang ulang semua peralatan Floor FX. Saya tes ulang semua, dan langsung berjalan normal. Walah, lalu tadi apa yang salah ya?? Kenapa tadi sensor kamera nggak bisa menampilkan gambar dengan benar?? Langsung, candaan saya dengan teman saya, “Di ruangan itu tadi pasti ada penunggunya. Dia nggak mau ke-capture kamera kali?”  Wahaha, mungkin iya mungkin nggak. Satu hal yang saya minta ke klien. Kalo bisa besok kalo saya presentasi lagi, jangan di ruangan yang sama ya…

Nah, bener kan. Keesokan harinya saya presentasi ulang, tapi di ruangan lain. Semuanya berjalan normal seperti biasanya. Kamera sensor menampilkan gambar seperti seharusnya. Walah, apa ya sebabnya kemarin? Jangan-jangan faktor metafisis memang bermain lagi di sini?

Nggak Perlu Kantor Gede & Karyawan Segunung

gawean March 12th, 2008

Tiba-tiba blog ini kok jadi banyak komentar motivasi seputar entrepeneurship ya? Wehehe, padahal ini niatnya blog santai. Ya wis, saya cerita-cerita dikit lagi tentang pengalaman saya. Oh ya, ini saya ngetiknya pada hari Rabu, waktu jam kerja, di rumah, alias sambil bersantai dan cari ide web baru (hihi, jangan pada iri ya..). Sembari di komputer satu lagi sedang asyik mengunduh serial animasi DVD-nya Dilbert.  Recommended loh…

Dulu kala isi kantor kami hanya berlima. Ya, pendirinya semua, merangkap produksi, jualan, sampe, bersihin rumah yang dijadiin kantor. Lama-lama karena mau semakin lebih profesional, kami menambah tim produksi, membayar staf akunting dan HRD. Lama-lama jumlah staf tetapnya semakin banyak. Masalahnya, kalo banyak, lalu semuanya punya banyak skill sih nggak apa-apa. Wong kerjaan kantor kami, agak berlompat-lompat, meski masih pada jalur kreatif. Dari desain, ngerjain animasi, web, hingga video.

cartoon4.jpgHehe, nah nggak ada staf yang bisa multi tasking di banyak tempat seperti itu. Padahal bisa jadi kerjaan desain lagi kosong, tapi kerjaan web lagi penuh. Akibatnya, staf desain pada menganggur jadinya.

Saat itu tempat produksi kami di Bandung, dan kami punya perwakilan marketing di Jakarta. Overhead setiap bulan pun semakin besar. Kalo dipikir sekarang, gila ya, berapa banyak duit terbuang untuk overhead itu. Kantor pun semakin membesar. Dari sewa rumah kecil hingga akhirnya sewa rumah besar 2 lantai di Bandung. Di Jakarta sih sewa ruang kecil saja, karena hanya ada 2 orang di situ.

Akhirnya, tibalah keputusan efisiensi. Kami akhirnya memutuskan untuk pindah total ke Jakarta. Wong kliennya semua ada di Jakarta. Staf yang tertarik pindah ke Jakarta, kami ajak. Ternyata nggak semuanya tertarik ke Jakarta. Ya sudah, kami anggap fresh start saja di Jakarta.

Kini kami cuma punya tim kecil. Tidak lebih dari 9 orang di kantor sewa kecil di Mampang. Yang kami andalkan sekarang lebih ke network SDM yang luas. Makanya, jangan tanya ada berapa freelancer yang sering membantu kami. Untungnya, overhead bulanan mengecil, yang artinya semakin besar keuntungan untuk kami yang punya. Freelancer yang dibayar per proyek tidak membebankan overhead. Kalo ada project, ya baru di-hire. Masalah fee freelancer yang biasanya lebih besar daripada fee staf bulanan nggak terlalu masalah. Toh, dia hanya dibayar kalo ada projectnya.

Makanya, kalo ada yang tanya, “Mas, di Stratego lagi buka lowongan nggak?” Kami akan jawab, “Kami akan selalu buka lowongan. Kalo skill kamu cocok dengan projectnya, ya kenapa tidak ikutan ngebantu.”

Oh ya, sebagai pemilik perusahaan, mempunyai segudang skill layaknya seorang dewa juga sangat membantu. Hihi, kalo terpaksa dan tidak terlalu sulit, kenapa nggak dikerjakan sendiri saja. Maksudnya ya, berhubungan dengan klien, mengerjakan desain produksi, hingga ngurus penagihan ke klien semua dikerjakan sendiri. Kecuali keuangan dan pajak ya. Kalo bagian itu jangan deh dipegang sendiri, karena bisa bikin sakit mata.

Bengong Tanpa Internet

gawean, ngalur ngidul February 29th, 2008

Seperti di posting sebelumnya, kehidupan saya sehari-hari nggak bisa lepas dari internet. Baik itu karena urusan gawean. Baik itu karena urusan main-main, hingga kesempatan saya belajar dan bereksperimen.

Sudah berniat saya pagi-pagi (pagi-paginya saya jam 10.00 hehehe…) berangkat ke kantor, karena ada masalah dengan power supply komputer di rumah yang menjadi gateway ke Fastnet. Karena tak bisa berinternet di rumah, saya pun berniat melanjutkan gawean di kantor (tipikal saya memang males pergi ke kantor).

Sesampai di kantor, ternyata eh ternyata koneksi Speedy setengah hidup dan mati. Sempat hidup dan saya bisa mengupdate beberapa revisi desain yang diminta klien. Namun belum selesai, koneksi Speedy tewas seutuhnya. Ndak bisa connect ke sambungan IIX, apalagi ke luar negeri.

Untung masih ada koneksi 3G dari IM2. Namun nggak lama, looh, ndak bisa connect ke luar negeri. Koneksi ke IIX pun sempat semaput. Loh, apa ini. Kok semua mati? Akhirnya terbengong-bengong di kantor karena ndak bisa ngapa-ngapain. Rekan saya pun malah memilih tidur karena ia tidak bisa mengerjakan apa-apa. Namun, untunglah sebelum malam tadi koneksi sudah berjalan kembali, dan hutang revisi bisa sesegera mungkin diselesaikan. Baik koneksi Speedy dan IM2 berjalan normal kembali.

Saya jadi ingat dulu kala pas banjir bandang Jakarta belum setahun lewat. Hidup ala manusia purba. Tanpa listrik, tanpa telepon, tanpa handphone, tanpa internet, tanpa WC, tanpa mandi, dan dengan makanan terbatas. Itu hanya 3 hari dan sudah nggak tahan. Saya sesekali sempat menghidupkan notebook barang sejenak, untuk mengurangi rasa kangen. Terbatasnya masa hidup batere membuat saya menyalakan notebook hanya untuk mengetik. Tidak berani saya menyetel lagu, apalagi memutar film, karena khawatir batere menjadi boros.

Haha, saya sudah menjadi manusia modern tulen rupanya. Nggak akan bisa lagi disuruh kembali ke zaman gelap.

Kamu Bisa Apa? - Bagian 2

gawean, narsis February 18th, 2008

Baca ini untuk cerita sebelumnya.

T: Wah, kamu kok bisa macam-macam ya?

J: Itu belum seberapa, Tuan. Saya juga lihai mendesain dan memahami teknis berbagai macam software desain. Saya pun sudah terbisa mendesain web dengan menggunakan CMS unggulan seperti Drupal, Joomla, atau Wordpress. Saya juga lumayan paham pola produksi audio visual, terutama untuk pengerjaan animasi dan video.

T: Kok bisa-bisanya kamu paham segitu banyak hal?

J: Yah, prinsip saya Tuan, saya harus tau segala sesuatu semuanya - meski nggak terlalu detil - sebelum saya menyerahkan pekerjaan ini ke anak buah saya. Saya jadi bisa mengukur sendiri seberapa sulit atau mudahnya sebuah pekerjaan.  Intinya, saya nggak akan mengalokasikan pekerjaan ke anak buah, kalau saya sendiri nggak ngerti lingkup pekerjaannya seperti apa.

T: Lalu apa dong yang kamu nggak bisa?

J: Haha, banyak Tuan. Saya sampai sekarang nggak bisa main musik.

Sekali lagi, itulah lanjutan wawancara saya dengan si Pitra (entah kapan wawancara narsis seperti ini akan berakhir).

Learn to Step Back

gawean February 15th, 2008

Kadang-kadang ada waktunya kita harus mengalah, menjaga diri agar tidak terlalu menunjukkan kehebatan kita. Tujuannya, agar spotlight beralih ke orang lain yang lebih membutuhkan.

Salah satu contohnya, ada seseorang menjadi pembicara di seminar, dan memang ia cukup kompeten di bidang itu. Tapi sampeyan, yang diakui sejagad raya ini memang lebih kompeten di bidang yang sama, ikutan jadi peserta dalam seminar ini. Sampeyan lalu ikut-ikutan menonjolkan diri dengan ikut-ikutan bertanya atau memberikan komentar yang malah menjatuhkan si pembicara. Saking egoisnya sampeyan, hingga akhirnya topik pembicaraan seminar jadi beralih ke diri sampeyan. Kasihan kan si pembicara. Spotlight-nya diambil oleh sampeyan. Padahal dia sudah berusaha keras agar menjadi seseorang yang berhasil di seminar ini.

Suatu waktu, ada kalanya kantor saya sudah bekerja keras untuk menggapai sesuatu. Namun, karena keegoisan pihak lain yang ingin unjuk gigi, spotlight yang sudah lama kami ingin coba raih langsung runtuh seketika. Padahal, belum tentu ia punya solusi yang lebih baik. Kadang-kadang kita harus ingat bahwa tidak semua kesempatan terbuka itu layak kita ambil. Bisa jadi, kesempatan yang ada itu adalah jatah bagi orang lain yang memang sudah saatnya layak ia terima.

Saya jadi ingat pelatihan internal yang dulu di kantor. Saking kebiasaannya saya berperan menjadi pemimpin, saya sampai lupa maksud dari pelatihan itu sendiri, yaitu menumbuhkan bibit kepemimpinan di antara staf kantor. Melalui pelatihan ini, justru saya malah diminta untuk mengalah. Biarkan spotlight kepemimpinan muncul dari staf-staf sendiri. Hal inilah yang terus mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati saat unjuk diri.

Learn to step back, katanya. Tidak melulu spotlight itu untuk sampeyan sendiri. Bisa jadi banyak yang lebih layak menerimanya daripada sampeyan, hanya tidak pernah mendapatkan kesempatan.

Jangan Mau Jadi Entrepeneur

gawean February 13th, 2008

Saya cuma mau ngasih tau kalau sampeyan ndak usahlah jadi entrepeneur, apalagi kalau mulainya dari modal nol (alias sudah kere, lalu mau wirausaha). Kenapa memangnya? Ini saya kasih alasan kenapa nggak enak jadi seorang entrepeneur bermodal nol:

  • Semakin tambah kere sehari-hari, siapa bilang jadi entrepeneur itu bisa dapet duit cepet?
  • Hutang sana sini, buat bayar karyawan, karena tagihan belum masuk.
  • Hutang lebih banyak lagi, karena pernah dituntut gara-gara ketauan pakai software Autodesk bajakan.
  • Susah cari waktu luang, karena sebagian besar waktu habis untuk ngurusin kerjaan.
  • Semakin banyak ditinggalin partner, karena pada nyerah di tengah jalan.
  • Stres tiap akhir bulan.
  • Tambah putus asa kalau ndak ada proyek yang masuk.

Lalu, dibandingin sama yang jadi karyawan, apa enaknya jadi seorang karyawan?

  • Nggak perlu mikir macem-macem. Asal kerja baik dan sesuai target, tiap bulan dapet penghasilan pasti.
  • Kalau masih ngerasa kurang cukup, sabar dikit beberapa bulan, lalu minta ke bos untuk kenaikan gaji. 
  • Sore abis pulang kerja masih sempet ngumpul dengan temen-temennya untuk nonton bioskop bareng.
  • Nggak pusing saat ngomong dengan pacar, kalo dia bisa menjamin masa depan pacarnya.
  • Bisa nabung.

EntrepeneurNah, jadi sampeyan mau pilih yang mana? Hehe, kalo saya sih tetep yang pertama, karena kejadian seperti itu sudah berlalu 4 tahun yang lalu (kecuali yang Autodesk, itu baru 2 tahun lalu).

Tapi ini membuat saya jadi kepikiran. Sudah banyak yang mengarang buku berjudul “Sukses Berwirausaha,” tapi ndak pernah ada yang nulis buku tentang “Gagal Berwirusaha.” Padahal, sudah pasti jumlah yang gagal akan lebih banyak daripada yang berhasil. Mbok mereka-mereka yang gagal ini disorot. Setelah gagal mereka lalu ngapain? Jadi karyawan kembali kah? Jualan tempe goreng di pasar kah? Atau malah mungkin hidup sengsara karena punya hutang besar dimana-mana.

Biar yang mau ber-entrepeneur ria juga banyak mikir, kalau resiko mental dan finansialnya itu sangat besar. Lagian, kalo nanti kebanyakan yang jadi entrepeneur, lalu siapa yang kerja donk?

Kamu Bisa Apa?

gawean, narsis February 12th, 2008

T: Kamu punya kemampuan apa aja sih?

J: Saya cuma bisa membaca, menulis, dan berhitung, Tuan…

T: Loh, kok mau ngurusin kerjaan interaktif? Apalagi ngurusin klien? Nggak cukup itu kemampuan kamu…

J: Maaf, Tuan. Saya cuma bisa membaca project brief dan cuma bisa mengembangkannya menjadi ide-ide kreatif. Saya juga cuma bisa menulis di blog, meski sedikit banyak saya juga bisa menulis bahasa Indonesia, Inggris, actionscript, CSS, dan PHP. Lalu saya juga baru bisa menghitung estimation cost dan menyampaikan quotation ke klien Tuan.

Segitulah wawancara pembuka awal antara saya dengan Pitra, si empunya blog Media Ide. (Loh memangnya saya ini siapa?)