Blog Classic Music Video

jagad maya, tembang, tontonan June 15th, 2008

Awalnya, seperti saya pernah cerita sebelumnya, saya mulai gandrung lagi dengan tembang-tembang lawas. Saya jadi sering berkunjung ke YouTube untuk menjenguk koleksi video musik lawas di sana. Jumat kemarin, tatanan waktu tidur saya sempat kacau gara-gara begadang sampai pagi akibat deadline. Sabtu pun dipakai untuk rehat serehat-rehatnya, sampai kepala sempat pusing karena overdosis tidur.

Sabtu malam pun saya jadi susah tidur. Akhirnya karena bingung dan bosan gak tau mau ngapain, saya iseng-iseng (lagi) saja membuat blog baru. Kali ini blognya kumpulan koleksi video musik yang saya sempat kunjungi di YouTube. Maunya sih bua blog ini di dagdigdug, namun karena dagdigdug nggak bisa meng-embed video, jadilah untuk blog iseng ini saya beralih ke blogspot.

Monggo mampir ke persinggahan saya yang lain di tautan ini. Jangan lupa, sampeyan akan butuh koneksi cepat bin lancar untuk bisa menikmati semua video YouTube ini dengan lancar. Blog akan di-update sampai saya bosan akan tontonan di YouTube.

Tontonan di Minggu Pertama Mei

tontonan May 12th, 2008

Terlalu banyaknya sisa film di rumah yang belum saya tonton, membuat saya mencoba ‘disiplin’ untuk mencicil film tersebut setiap hari. Hehe, meski ini sesuatu yang nggak mungkin dilakukan, karena kecepatan mendapatkan tontonan jauh lebih besar daripada kemampuan diri saya untuk menonton. Belum lagi ditambah kesempatan untuk menonton bioskop.

Di minggu pertama Mei kemarin saya mencoba mengingat-ingat film apa saja yang saya tonton (tidak urut tanggal karena memang tidak ingat):

  • Smallville Season 7 Episode 19 (DivX). Saat mendekati akhir season, Lex Luthor semakin berhasil mendapatkan kunci yang bisa menguasai Traveler, alias Kal-El/Clark Kent. Kunci yang dicari-cari akhirnya Luthor temukan di dalam kastilnya sendiri.
  • Diving Bell and the Butterflies (Bioskop). Film Prancis yang dibuat dari sudut pandang seseorang yang lumpuh/paralisis dari kepala hingga kaki. Ia akhirnya mampu menceritakan kisahnya dengan menulis buku, hanya bermodalkan kedipan satu matanya saja. Kisah yang mengharukan dan wajib ditonton.
  • Mr. Magorium’s Wonder Emporium (DVD).  Dustin Hoffman berperan bagus banget di film imajinasi ini. Ia menjadi seorang pembuat mainan yang hendak mewariskan toko mainan ajaibnya ke apprentice-nya, yang diperankan oleh Natalie Portman. Cerita agak lambat, tapi ide yang diutarakan sungguh menarik.
  • Stardust (DVD). Lagi-lagi kisah imajinatif surealis. Di versi DVD-nya, sampeyan bisa melihat alternatif akhir cerita, plus beragam adegan blooper di film yang sangat apik ini.
  • Speed Racer (Bioskop). Film garapan Wachowski bersaudara. Kalau mau lihat film dengan tampilan visual yang bisa dikatakan inovatif, jangan hilangkan kesempatan menonton film ini. Film ini memang penuh dengan spesial efek warna-warni. Kesannya memang film untuk anak-anak, tapi saya yakin anak-anak akan bingung kalau melihat film ini, karena gaya tutur plot ceritanya yang loncat ke sana ke mari.
  • Ben 10 Alien Force Season 1 Episode 1-2 (DivX). Di seri terbaru Cartoon Network ini, Ben sudah beranjak dewasa. Ia kini harus mencari kakeknya yang lenyap entah kemana. Kalau suka serial Justice League masa lalu, dijamin sampeyan akan suka serial terbaru Ben 10 ini.
  • National Treasure 2: Book of Secrets (DVD). Saya memang belum sempat nonton bioskopnya. Mungkin harus dengan tontonan seperti ini, supaya seseorang bisa mencintai heritage/warisan budaya leluhurnya.
  • Martian Child (DVD). Kisah drama yang menarik. Seorang pria duda yang mencoba mengangkat anak yang eksentrik. Si anak mengaku dirinya adalah orang Mars. Si pria duda, yang penulis novel fantasi, mencoba berempati dan berusaha menjadi ayah sekaligus teman yang baik dengan si anak. Film yang menurut saya sangat layak ditonton.
  • Macross Frontier Episode 5 (DivX). Serial terbaru Macross dengan efek yang luar biasa kerennya. Wajib tonton untuk para pecinta Macross.
  • GI Joe Sigma 6 Season 2 (DivX). Film animasi seri GI Joe yang diputar tahun lalu. Baru sempat saya unduh dan tonton sekarang. Yah, ceritanya sih biasa dan agak-agak garing, meski animasinya bagus.
  • Jumper (DVD). Cerita yang aneh. Dibilang bagus banget ya nggak juga, dibilang jelek ya nggak juga. Idenya sih menarik, tapi entah kenapa kok setelah menonton film ini, rasanya ada yang kurang.
  • The Cleaner (DVD). Kalau ini cerita lucu seorang janitor yang lupa ingatan, dan menganggap dirinya adalah seorang agen rahasia. Hehe, kalau mau tertawa, coba cari film ini deh.

Vita di KDI 5

tontonan April 29th, 2008

Jujur saja, saya sangat jarang menonton tivi. Kebetulan di rumah tadi asisten rumah tangga asyik menonton KDI yang diputar setiap harinya di TPI. Apalagi terdengar ibu saya ikut tertawa melihat episode itu. Saya jadi tertarik untuk menjenguk, dan akhirnya terkaget sekaligus tertawa pula setelah melihat satu kontestan bernama Vita.

Si Vita asal Nganjuk ini rupanya tidak begitu fasih bahasa Indonesia. Berbeda dengan Cinta Laura yg kelondolondoan, si Vita ini bahasa Jawanya kental banget. Sering kali juri bertanya pun, dijawab dengan bahasa Jawa. Sepertinya juri pun ikut senang (maksudnya, senang ngerjain) si Vita ini. Soalnya terlihat lugu di balik ke-Jawa-annya itu.

Lucunya, si Vita ini seneng pula menyanyikan lagu londo. Maka didaulatlah dia oleh para juri untuk menyanyikan lagu Evanescence versi Dangdut. Wahaha, lucu banget… Keluguan lainnya saat si Vita ini ditanya dalam bahasa Inggris. Ditanya “How do you do?” pun si Vita kebingungan menjawab, meski ia bisa dengan fasih melafalkan lirik-lirik Evanescence (sudah pasti murni hafalan tanpa ngerti arti apapun yang ia ucapkan).

Seperti para peserta lainnya, di kuping Vita ditempeli earphone, dengan ada panitia yang membisiki di baliknya. Para juri sempat menanyakan bahasa Inggrisnya kereta gantung. Si panitia yang membisiki pun ikut memberi jawaban yang ngawur. Akibatnya, kembali lagi Vita jadi bahan tawa. Jawabnya, “hang train.” Hehehe..

Di akhir sesinya, ia mengucapkan terima kasih kepada banyak orang. Terakhir si panitia sepertinya membisiki dengan kata-kata penutup, “I love you all.” Hehe, tapi yang didengar dan lalu diucapkan oleh Vita adalah, “I love you ul.” Huehehe, kembali lagi para pemirsa pun tertawa.

Hebatnya, meski lugu, Vita ini terlihat PD (PD dengan setiap keluguannya).  Juga PD dengan bahasa Jawanya, ndak peduli penonton di studio ato pemirsa di tivi mungkin nggak ngerti apa yang ia omongkan.

Andaikan di antara sampeyan ada yang merekam acaranya, mohon dunk diupload ke YouTube. Hihi, sesi Vita tadi bener-bener menghibur soalnya. Ato ada yang punya fotonya? Berita tentang episode ini bisa dibaca di situsnya TPI pula.

Dilbert, Versi DVD-nya

tontonan March 17th, 2008

DilbertSudah tau dong siapa itu Dilbert? Serial comic strip Dilbert karya Scott Adams ini sempat diangkat ke versi animasi seri. Kini baru aja tuh DVD complete set 2 season-nya keluar. Versi animasinya tidak jauh berbeda dengan versi comic strip-nya. Tokoh Dilbert tetaplah seorang engineer pintar, hobi mengembangkan inovasi, geek, dan anti sosial.

Ada si Dogbert, anjing teman Dilbert yang haus kuasa, smart, tapi peduli dengan Dilbert. Ada karakter Larry, engineer pemalas yang datang ke kantor hanya karena agar tidak dipecat saja (ato bahkan si perusahaan juga males kali mecat Larry?). Lalu ada Alice, seorang wanita keras superior yang bisa “kejam” terhadap rekan kerjanya. Dan terakhir, si Boss, sang atasan yang sebenarnya bodoh tapi selalu mencoba menutupi kebodohannya.

Nah, saya belum sempet nonton semua serinya sih. Namun baru beberapa episod saya tonton, saya sudah ngakak habis. Guyonan animasi ini bener-bener satir. Secara ekstrim diceritakan betapa sebalnya para engineer dengan para marketing. Setiap produk inovasi para engineer pasti dibantai oleh staf marketing.

Contohlah, saat Dilbert cerita kalo ia punya ide membuat “underwater barbeque.” Ide ini disetujui tim marketing, asalkan produk ini tidak mengandung kata “underwater” dan “barbeque.” Hehe, sebetapa pintarnya ide keluaran engineer, tetap aja tim marketing akan menolaknya. Bahkan ada satu kantor yang gara-gara membuat divisi marketing, malah membuat para engineernya bunuh diri. Padahal sebelumnya, tanpa divisi marketing, para engineer hidup senang dalam bekerja.

Ada lagi cerita saat tim perusahaan tempat Dilbert ini bekerja melakukan brainstorm untuk mencari inovasi produk baru. Flow produksi diacak-acak di sini. Hihi, saking satirnya, si Boss bahkan minta agar tim menentukan lebih dahulu nama produknya, bahkan sebelum tau apa itu jenis produknya, apa itu fungsinya, siapa target pembelinya. Proses memilih nama pun diceritakan dengan satir. Hehe, pokoknya kalo sampeyan itu bekerja sebagai engineer, kerja di cubicle sempit, punya boss nggak becus, dan tiap hari terlibat dalam keputusan manajerial, animasi Dilbert ini cocok banget untuk sampeyan.

Daripada ngetawain boss sampeyan n kena resiko dipecat, mending ketawa nonton Dilbert deh!

Mending Dorama daripada Sinetron

tontonan March 4th, 2008

Saya itu penonton film sejati, meski kadang waktu suka membatasi saya berkelana ke bioskop untuk menonton film terbaru. Namun pada akhirnya apa yang diputar di bioskop umumnya akan saya tonton versi DVD-nya. Seperti generasi muda lainnya (walah, saya muda?) saya sebal melihat sinetron. Kecuali itu sitkom bermutu seperti OB ato cerita anak bermutu seperti Oneng, acara sinetron lainnya nggak ada yang sedap ditonton.

Jelas kebanyakan cerita sinetron sangat mengada-ada, dengan karakter yang absurd, dan tidak memberikan pesan positif sedikitpun. Pemilihan casting pemain pun suka sesuka hati. Nenek, ibu, dan cucu tidak ada perbedaan umur jauh. Kalo melihat mereka, saya selalu bertanya, “Busyet, ini ibunya ngelahirin di umur berapa ya? 10 tahun?” Belum lagi cerita bertele-tele berdasar rating, dan saat rating menurun, cerita diakhiri dengan begitu saja dalam 1-2 episod.

Di lain sisi, saya termasuk yang cukup menggemari dorama Jepang. Selain alasan basi seperti pemain mudanya yang cute, ada sesuatu yang sangat bernilai positif di dalamnya. Memang sih, nggak semua dorama Jepang itu bermutu, karena ada pula yang ceritanya murahan. Setidaknya dari beberapa dorama bermutu yang saya tonton, ada benang merah menarik di baliknya. Semuanya membangun rasa kesemangatan tinggi, perjuangan gigih untuk mencapai suatu target ato prestasi, apapun itu profesi yang digeluti karakter dalam cerita. Lagi pula, semua dorama itu dibatasi dalam episode tertentu, maksimum 13 episod, dengan flow cerita yang diatur menarik, tanpa paksaan popularitas rating di baliknya

Attention PleaseYang paling menarik di antara seri dorama yang pernah saya tonton adalah Attention Please! Dorama yang diperankan penyanyi Aya Ueto ini berkisah tentang seorang remaja awut-awutan bernama Misaki Yoko yang berniat menjadi pramugari. Disiplin ketat di pelatihan Japan Airlines (JAL) mengubah perilaku awut-awutan ini dan membentuk kepribadian Misaki menjadi lebih baik. Cerita ini sekaligus mengangkat profesi pramugari JAL. Menjadi pramugari bukanlah menjadi seperti seorang pelayan restoran di udara. Pelatihan mental menghadapi penumpang saat situasi kritis di pesawat udara lebih memegang peranan penting daripada sekedar melayani teh ato kopi.

Setelah menonton ini, saya lalu jadi membandingkan perilaku pramugari di penerbangan kita dan apa yang ditunjukkan di dorama ini. Sungguh sangat berbeda. Saya nggak yakin kalo para pramugari penerbangan kita perlu menempuh sedemikian besar pelatihan dan cobaan seperti yang ditunjukkan di dorama ini.

Shimokita Glory DaysDorama menarik lainnya adalah Shimokita Sundays. Jangan disamakan dorama ini dengan cerita kampungan dorama berjudul mirip, Shimokita Glory Days ya. Dorama seri Shimokita Sundays bercerita tentang sekumpulan klub drama kecil di kota kecil Shimokita. Dorama ini mengusung pesan kalau idealisme dan mimpi itu bisa dicapai, asal seseorang punya spirit dan tekad untuk mengembangkannya. Dimulai dari klub drama yang bisa dibilang gagal dengan pengunjung yang sedikit, hingga akhirnya cukup tenar di Shimokita, tanpa mereka menggagalkan identitas mereka dan terbawa arus komersialisme. Jangan berpikir ini dorama serius. Dorama ini cukup lucu kok. Banyak adegan tawa di balik ceritanya.

Teppan Shoujo AkaneAttack No. 1Dua dorama menarik lainnya adalah Teppan Shoujo Akane dan Attack No. 1. Kalo Teppan Shoujo Akane berkisah tentang seorang SMU drop out yang memilih meneruskan karir ayahnya di dunia permasakan. Sementara Attack No. 1 berkisah tentang para remaja SMU yang dipilih untuk bergabung dalam tim nasional Jepang. Konflik dan tantangan mental fisik dihadapi para anggota tim agar mereka bisa menjadi tim voli wanita nomor satu di dunia. Kedua dorama ini diangkat dari cerita manga, dan mengangkat bahasa-bahasa visual anime di dalamnya.

Bukan memunafikkan karya bangsa sendiri, tapi kenapa sinetron kita tidak mengambil pesan positif yang tersirat dari seri dorama Jepang ini? Melalui cerita-cerita seperti ini, bukankah secara nggak langsung akan memberi semangat pada para pemirsanya untuk berprestasi lebih gigih? Perjuangan mencapai suatu tujuan itu tidak ringan, dan butuh kerja keras. Bukannya dengan cara tipu menipu dan rebutan warisan kekayaan seperti yang terjadi di cerita sinetron sekarang ini.