Saya itu penonton film sejati, meski kadang waktu suka membatasi saya berkelana ke bioskop untuk menonton film terbaru. Namun pada akhirnya apa yang diputar di bioskop umumnya akan saya tonton versi DVD-nya. Seperti generasi muda lainnya (walah, saya muda?) saya sebal melihat sinetron. Kecuali itu sitkom bermutu seperti OB ato cerita anak bermutu seperti Oneng, acara sinetron lainnya nggak ada yang sedap ditonton.
Jelas kebanyakan cerita sinetron sangat mengada-ada, dengan karakter yang absurd, dan tidak memberikan pesan positif sedikitpun. Pemilihan casting pemain pun suka sesuka hati. Nenek, ibu, dan cucu tidak ada perbedaan umur jauh. Kalo melihat mereka, saya selalu bertanya, “Busyet, ini ibunya ngelahirin di umur berapa ya? 10 tahun?” Belum lagi cerita bertele-tele berdasar rating, dan saat rating menurun, cerita diakhiri dengan begitu saja dalam 1-2 episod.
Di lain sisi, saya termasuk yang cukup menggemari dorama Jepang. Selain alasan basi seperti pemain mudanya yang cute, ada sesuatu yang sangat bernilai positif di dalamnya. Memang sih, nggak semua dorama Jepang itu bermutu, karena ada pula yang ceritanya murahan. Setidaknya dari beberapa dorama bermutu yang saya tonton, ada benang merah menarik di baliknya. Semuanya membangun rasa kesemangatan tinggi, perjuangan gigih untuk mencapai suatu target ato prestasi, apapun itu profesi yang digeluti karakter dalam cerita. Lagi pula, semua dorama itu dibatasi dalam episode tertentu, maksimum 13 episod, dengan flow cerita yang diatur menarik, tanpa paksaan popularitas rating di baliknya
Yang paling menarik di antara seri dorama yang pernah saya tonton adalah Attention Please! Dorama yang diperankan penyanyi Aya Ueto ini berkisah tentang seorang remaja awut-awutan bernama Misaki Yoko yang berniat menjadi pramugari. Disiplin ketat di pelatihan Japan Airlines (JAL) mengubah perilaku awut-awutan ini dan membentuk kepribadian Misaki menjadi lebih baik. Cerita ini sekaligus mengangkat profesi pramugari JAL. Menjadi pramugari bukanlah menjadi seperti seorang pelayan restoran di udara. Pelatihan mental menghadapi penumpang saat situasi kritis di pesawat udara lebih memegang peranan penting daripada sekedar melayani teh ato kopi.
Setelah menonton ini, saya lalu jadi membandingkan perilaku pramugari di penerbangan kita dan apa yang ditunjukkan di dorama ini. Sungguh sangat berbeda. Saya nggak yakin kalo para pramugari penerbangan kita perlu menempuh sedemikian besar pelatihan dan cobaan seperti yang ditunjukkan di dorama ini.
Dorama menarik lainnya adalah Shimokita Sundays. Jangan disamakan dorama ini dengan cerita kampungan dorama berjudul mirip, Shimokita Glory Days ya. Dorama seri Shimokita Sundays bercerita tentang sekumpulan klub drama kecil di kota kecil Shimokita. Dorama ini mengusung pesan kalau idealisme dan mimpi itu bisa dicapai, asal seseorang punya spirit dan tekad untuk mengembangkannya. Dimulai dari klub drama yang bisa dibilang gagal dengan pengunjung yang sedikit, hingga akhirnya cukup tenar di Shimokita, tanpa mereka menggagalkan identitas mereka dan terbawa arus komersialisme. Jangan berpikir ini dorama serius. Dorama ini cukup lucu kok. Banyak adegan tawa di balik ceritanya.

Dua dorama menarik lainnya adalah Teppan Shoujo Akane dan Attack No. 1. Kalo Teppan Shoujo Akane berkisah tentang seorang SMU drop out yang memilih meneruskan karir ayahnya di dunia permasakan. Sementara Attack No. 1 berkisah tentang para remaja SMU yang dipilih untuk bergabung dalam tim nasional Jepang. Konflik dan tantangan mental fisik dihadapi para anggota tim agar mereka bisa menjadi tim voli wanita nomor satu di dunia. Kedua dorama ini diangkat dari cerita manga, dan mengangkat bahasa-bahasa visual anime di dalamnya.
Bukan memunafikkan karya bangsa sendiri, tapi kenapa sinetron kita tidak mengambil pesan positif yang tersirat dari seri dorama Jepang ini? Melalui cerita-cerita seperti ini, bukankah secara nggak langsung akan memberi semangat pada para pemirsanya untuk berprestasi lebih gigih? Perjuangan mencapai suatu tujuan itu tidak ringan, dan butuh kerja keras. Bukannya dengan cara tipu menipu dan rebutan warisan kekayaan seperti yang terjadi di cerita sinetron sekarang ini.
Share This