Menciptakan Mood

ngalur ngidul May 12th, 2008

Di dunia saya ini, setiap harinya nggak boleh punya idle mind. Selalu dipacu untuk berpikir mencari ide-ide baru. Baik itu untuk keperluan pitching, maupun untuk sekedar brainstorming mencari konsep baru, atau bahkan sekedar mencari ide menulis untuk ngeblog. Lagi pula, kalau saya mencoba berdiam sejenak saja dan menatap kosong, kok rasanya malah ada yang kurang ya (kayak bukan saya, gitu). Kalau pun saya terlihat melamun, itu pasti saya lagi mencoba merangkai-rangkai ide tertentu.

Dari kuliah dulu, saya selalu diingatkan kalau namanya ide nggak harus menunggu mood dulu. Kalau mood-nya cuma keluar seminggu sekali, masa ya saya bengong selama seminggu? Yang benar adalah, saya berusaha menciptakan suasana yang membuat mood saya selalu muncul setiap saat.

idea

Setiap orang pasti punya caranya sendiri membangun mood. Untungnya kalau saya, nggak perlu terlalu libet agar mood bisa muncul. Berikut ini beberapa hal yang biasa saya lakukan untuk menciptakan mood untuk mendapatkan ide.

  • Tiduran dan berkhayal. Hanya ini ternyata kadang cukup berbahaya. Saya beberapa kali suka dibuat tertidur karenanya. Untuk tiduran ini, saya mencoba mencari sofa yang tidak empuk dan tidak keras. Kalau terlalu empuk dan nyaman, malah akan membuat saya tertidur.
  • Memegang kertas dan pensil. Menulis beberapa poin atau keyword penting. Mencoret-coret sekenanya, membuat diagram semi asal. Lama kelamaan mencoba mencari relasi antar diagram dan keyword.
  • Membuka aplikasi pengolah kata dan melakukan hal serupa seperti memegang kertas dan pensil. Pengutamaannya di sini mungkin lebih ke penyusunan keyword. Ada memang beberapa hal yang dilakukan yang lebih enak diketik daripada ditulis dan digambar.
  • Memutar musik yang berirama lembut. Kalau bisa yang tidak memaksa diri untuk menyanyi, biar konsentrasi nggak buyar.
  • Browsing ke situs-situs yang bisa membantu pencerahan ide. Jangan pilih situs yang berat-berat. Saya lebih memilih ke situs yang isinya banyak elemen grafis atau gambar. Siapa tau gara-gara browsing kepikiran sesuatu pemikiran yang beda dan unik.
  • Seandainya di rumah atau kantor saya punya taman, saya akan lebih senang mengerjakan hal-hal di atas di sebuah taman. Karena nggak ada, ya manfaatin semaksimal yang ada saja.

Nah, saya nggak tau cara sampeyan membangun mood dengan cara bagaimana. Bisa-bisa berbeda dengan yang saya lakukan. Membangun mood itu bisa jadi merupakan disiplin sendiri. Kalau sampeyan sudah bisa membangun mood kapanpun juga, mudah-mudahan bisa semakin meminimasi menganggurnya otak sampeyan. Bukankah idle mind is the devil’s workshop?

Passion saat Menulis

kisah, ngalur ngidul April 20th, 2008

writingDulu saat saya berdikusi dengan klien saya, si klien sempat bertanya, “Pak, kok bisa sih Pak, tahan menulis blog? Soalnya saya sendiri sudah pernah mencoba menulis, tapi nggak bisa tahan lama. Kebanyakan draft, tapi nggak pernah jadi satu tulisan.”

Wah, saya ditanya gitu pun mencoba mencari jawaban. Kalo saya pribadi sih, karena sudah jadi kebiasaan, nggak pernah merasa bingung saat menulis. Sepanjang idenya ada, masalah pengungkapannya adalah hal yang relatif mudah. Makanya, sangat sangat jarang sekali saya membuat tulisan blog dalam format draft. Biasanya, sekali tulis, langsung dipublikasikan.

Kalo tanya resepnya bagaimana bisa seperti itu, yah bisa jadi karena kebiasaan saya sendiri yang sudah menulis sejak kecil. Tau ndak? Pada masa-masanya video Voltus V dan ragam film robot lainnya di tahun 1980-an itu membuat saya terinspirasi untuk membuat cerita serupa. Akibatnya, ditulislah dalam buku tulis kecil-kecil ragam cerita imajinasi yang temanya ndak jauh dari kisah robot-robot besar dan jagoannya. Hihi, bahkan waktu SMA saya pernah mengarang cerita porno di buku tulis. Juga dengan tulisan kecil-kecil. Hanya untuk konsumsi pribadi tentunya, bukan disebar-sebar. Maklum, pengaruh budaya visual baik positif maupun negatif cukup kuat mengakar di otak saya.

Mungkin ada yang belum tau, kalo saya dan teman-teman saya di masa kuliah dulu, sudah pernah mempublikasikan banyak buku komik. Selain dulu pernah menerbitkan komik secara independen, kami sempat bekerja sama dengan penerbit Mizan untuk mengerjakan banyak cerita komik remaja dan Islam. Saya juga terlibat dalam membuat beberapa cerita komik di situ. Ada kali lebih dari 20 buku yang pernah kami buat. Hihi, nggak nyangka toh?

Lalu dari mana saya belajar itu semua? Ndak dari mana-mana. Yah, modal baca komik, novel, nonton film, dan mencurahkannya kembali imajinasi saya dalam format tulisan. Mungkin lebih banyak mengandalkan jam terbang daripada belajar cara menulis secara ilmiah.

Alasan paling mendasar agar semua kegiatan bisa terlaksana (termasuk menulis) adalah passion. Kalo sampeyan doyan banget dengan apa yang biasa sampeyan lakukan, sampeyan nggak akan bosan melakukannya. Sampeyan pasti akan terus mencoba, mencoba, dan mencoba hingga sampeyan akhirnya ahli di situ. Makanya, kalo mau konsisten menulis apapun (termasuk blog), ya jangan pernah berhenti. Kalo suatu saat sampeyan berhenti, khawatirnya apa yang sampeyan sudah dalami menjadi dangkal kembali. Seperti layaknya pisau, sampeyan harus asah terus supaya tetap tajam.

Ntar kalo saya kepikiran tips tambahan, akan saya post di tulisan-tulisan berikutnya.

Ceritanya Jadi Blogger Terpilih

ngalur ngidul April 14th, 2008

Entah kenapa, tiba-tiba hari Jumat lalu Ndoro Kakung menodong saya via YM. Katanya, “Kamu dipilih jadi blogger favorit Dagdigdug. Atas perintah Paman Tyo, saya disuruh mewawancarai kamu.” Walah, kayak saya kurang seleb aja, masih disuruh jadi blogger favorit. Hehehe.. Ya apa boleh buat. Perintah Paman Tyo memang nggak boleh dilanggar. Jadilah akhirnya wawancara singkat via YM itu.

Tadi pun saya datang ke acara peluncurannya. Berkenalanlah saya dengan para orang di balik layar Dagdigdug (tepatnya cuma Mas Didi yang belum pernah saya tatap mata sebelumnya). Ada pula Puji hadir di sana. Lalu ada si tukangketik yang lagi aktif membuat blog tentang bola. Yang paling menghibur mata dan hati tentunya adalah kedatangan Maylaffayza di acara itu. Setelah ngobrol agak lama, baru sadar betapa si Maylaffayza ini mengingatkan saya dengan teman lama saya yang kini sudah berkelana ke Eropa sanah. Wajah keduanya mirip banget. Mudah-mudahan mereka berdua bukan bayi kembar yang terpisah sejak lahir.

Di acara itu, para pemrakarsa Dagdigdug: Paman Tyo, Mas Didi, dan Enda sedikit banyak cerita soal Dagdigdug. Yang saya mau sebetulnya materi presentasi yang dibawakan Enda. Hehe, bolehkah saya copy file PPT-nya? :D Enda tadi bercerita tentang kondisi pengakses internet Indonesia dan perkiraan jumlah blog asal Indonesia.

Maaf untuk kesempatan tadi, saya ndak bawa kamera. Jadi ndak bisa bikin komik lucu-lucuan. Mintalah fotonya ke Puji karena sedari tadi ia foto kesana kemari.

Ngeblog Demi Eksistensi

ngalur ngidul April 10th, 2008

Banyak alasan kenapa saya harus ngeblog. Alasan klasik yang biasa saya jawab kenapa saya ngeblog di Media Ide adalah ngeblog itu untuk jualan diri - jualan kompetensi dan kemampuan saya dan perusahaan yang diwakili saya. Lalu, kalo saya ditanya kenapa ngeblog di rumah ini, pasti saya jawab karena saya suka saja dan karena butuh tempat ngeblog lain yang lebih santai tanpa beban dan misi tertentu.

Namun barusan saya kepikiran. Pasti ada alasan yang lebih mendasar kenapa saya ngeblog, kenapa sampeyan ngeblog, ato kenapa kita semua ngeblog. Alasan yang jauh lebih mendasar. Yah, mungkin jawabannya adalah saya ngeblog karena saya butuh eksistensi. Saya ngeblog supaya saya terlihat ‘ada’ di antara banyaknya warga maya di internet. Saya ngeblog supaya saya punya perwakilan diri saya di dunia maya. Saya juga ngeblog supaya saya punya alasan untuk bertemu dengan warga maya lainnya di dunia nyata.

Saya ngeblog di Media Ide karena saya butuh eksistensi berkelas profesional, dan bisa dikenal oleh warga internet lain yang seprofesi dan punya kebutuhan eksistensi yang sama. Saya ngeblog di rumah ini karena saya butuh eksistensi dari kalangan blogger-blogger santai yang suka ngumpul ngobrol ngalur ngidul tanpa ada topik tertentu. Saya butuh eksistensi dari 2 kelompok blogger yang berbeda. Kalo saya nanti merasa saya perlu bergaul dengan kelompok blogger pencari uang, saya pasti akan mencoba eksis dengan membuat blog yang berfokus mencari uang.

Komik diembat dari sini.

Blogging Life

Ngeblog untuk Jual Diri

narsis February 16th, 2008

Setiap kali saya ditanya kenapa saya ngeblog, pasti saya akan jawab, “Ngeblog itu untuk jual diri kok.” Loh kok malah jadi jual diri? Secara nggak langsung, bukankah apa yang kita tulis di blog adalah opini dan pemikiran diri kita sendiri, dan bukan orang lain? Jadi apa namanya dong kalo itu bukan jual diri?

Kalo di blog saya yang satu lagi, saya jualan kompetensi saya. Saya cerita-cerita kalo saya mengerti tentang topik yang saya tulis di sana. Kalo blog saya dibaca oleh orang yang tepat, ya Alhamdulillah, berarti berkah buat saya dan kantor saya. Artinya, ada peluang mendapat proyek dari ngalur ngidul saya di blog itu. Atau minimal, dengan saya blogging di sana, semakin menambah jaringan perkenalan saya di dunia maya, terutama dengan mereka-mereka yang berkecimpung di dunia serupa.

Nah, kalo di blog ini saya jualan apa? Haha, kalo di sini saya jualan pribadi saya.. Siapa tau gara-gara blog ini, saya semakin kenal dengan pribadi-pribadi lain yang serupa. Dan siapa tau juga gara-gara blog ini, ada seratus calon jodoh saya yang membaca dan terus mengikuti blog ini, hingga akhirnya saya semakin dimudahkan karena cukup memilih 1 saja dari 100 pilihan itu. Haha.. Bermimpi boleh dong…

Kenapa Nulis di Dagdigdug?

ngalur ngidul February 12th, 2008

Semalam Iim Fahima nge-YM saya, lalu menanyakan, “kenapa ngeblog di dagdigdug?” Buat saya itu pertanyaan mengherankan. Jawab saya, “ya sama alasannya seperti dulu saya ngeblog di blogspot, blogsome, dll.” Mungkin kalau dilihatnya dari sisi seseorang yang cukup aktif berhubungan dengan online marketing, pasti saya punya segudang alasan strategi tersembunyi di baliknya. Padahal, bisa jadi ini sekedar antusias belaka, tanpa ada alasan lain. Sekali-kali saya mau merasakan dari sisi pengguna blog saja yang suka ikut-ikutan kemana blogger-blogger senior bersangkar.

Alasan-alasan nggak penting lainnya adalah:

  • Saya dari dulu ingin nulis sesuatu yang nggak berhubungan dengan pekerjaan, dan itu jelas nggak pas kalau saya tulis di blog utama saya. Mau nulis di blogspot tapi nggak pernah bisa tahan lama. Mau nulis di friendster, kok abege banget ya?
  • Nama dagdigdug lebih enak didengar daripada detikblog (yang nyebut alamat URL-nya saja jadi seperti jualan barangnya Detik), meski resikonya, mengetik kata dagdigdug itu lebih susah.
  • Pilihan desain theme-nya jauh lebih banyak, meski kok error ya kalau saya mau edit CSS tambahannya.
  • Akhirnya kenal semalam dengan yang punya, via YM. Hihi, kalau kenal produknya kan ujung-ujungnya siapa tahu nemu sesuatu yang bisa dijual bareng.
  • Entah ada apa dengan dagdigdug ini. Katakan saja ini intuisi, tapi rasanya ada sesuatu yang baik akan datang di blog ini di masa datang. Percaya deh, biasanya feeling-feeling-an saya ini suka benar.

Nggak banyak sih alasannya. Mungkin ibu Iim sudah puas? Hihi, eniwei hati-hati menggendong bayi barunya ya..

Dagdigdug, Ini Tulisan Pertama

ngalur ngidul February 10th, 2008

Akhirnya, saya ikutan juga bergabung di Dagdigdug. Pilih-pilih antara membuat blog serupa di Blogdetik, tapi entah kenapa, saya cenderung memilih Dagdigdug. Ha, apakah ini karena saya kenal dengan Paman Tyo, dan saya ndak kenal dengan orang-orang Detik? Yah, mungkin saja. Entah, mungkin yang dipunyai “rakyat jelata” lebih menarik untuk disandangi dibandingkan yang dimiliki korporasi. Meski ndak menjamin, mana yang akan bertahan lebih lama membiayai kita, para blogger untuk pakai kaplingnya.

Kalau dihitung-hitung pakai kalkulator, ini rasanya blog saya yang ke-7 (atau ke-8, entahlah kalkulator saya tombolnya cuma sampai angka 5). Ini bukan berarti saya aktif blogging ya. Ini hanya suka-suka saja bikin akun kesana kemari. Posting sedikit, pindah, hingga lupa kalau saya punya peninggalan dimana-mana. Mudah-mudahan saja ini bisa jadi blog ke-3 yang benar-benar saya tulis dengan aktif selain blog Media Ide dan Eye Pleasure.

Salam-salam untuk blogger penghuni Dagdigdug lainnya!