Membeku

imajinasi March 24th, 2009

Aku masih merasakan keringat dingin yang mengucur di keningku. Tanganku berasa dingin. Badanku pun berasa dingin. Seluruh tubuhku kini bergoncang, tak bisa menahan kehororan di hadapanku. Aku mencoba menutup mata, namun otak ini serasa tak berfungsi. Pencerahan pikiran yang kudapat saat berenang lantas hilang seketika. Aku hanya berdiri gamang di tepian kolam, tak bisa berpikir apa-apa.

Aku melihat semua orang itu yang telah membeku seketika. Di kolam, di tepian kolam, di tempat duduk nun jauh di sana. Semuanya beku. Es putih berkristal menutupi seluruh badan mereka. Menakutkan, ekspresi mereka seperti tak terkejut sama sekali. Semua seperti terjadi seketika. Air kolam yang semula biru pun kini tertutup es tipis. Uap dingin menyeruak dari sela-sela retakannya. Angin dingin mulai terasa menyeruak, menambah horornya suasana.

Aku mengambil nafas panjang. Memejamkan mata dan membukanya kembali, sembari mengembalikan kecerahan pemikiranku. Saat itulah aku baru tersadar. Tunggu, mengapa aku baik-baik saja? Mengapa aku tidak ikut membeku seperti mereka?

Aku mencoba menyusuri tepian kolam, melintasi es tipis yang kini semakin banyak bermunculan. Aku mengangkat diriku ke luar kolam. Terduduk sejenak sambil kembali menatap kolam yang kini berubah menjadi sekumpulan es tebal. Aku pun berdiri. Masih terus tergidik, aku pun berlari. Aku menggapai handuk dan baju sambil terus berlari.

Aku merasakan angin dingin terus menusuk. Angin dingin menderus semakin kencang. Di sayup-sayup aku berlari, aku mendengar suara desiran angin di belakangku. Aku menoleh, dan kembali terdiam. Di tebalnya angin kencang, aku melihat sesosok bayangan melayang. Bayangan itu terus semakin mendekatiku. Aku hanya terdiam, tak bisa bergerak, meski angin kencang dingin menerpaku. Aku terlalu takut untuk membayangkan apa di balik bayangan itu.

Aku masih terdiam, saat bayangan itu berubah menjadi kenyataan. Seorang perempuan cantik berbaju hitam dan beranting besar terbang melayang terus mendekatiku. Ia menatapku tajam. Tangan kanannya yang memegang bunga lili menunjukku.

“Kamu harus ikut denganku. Angin dingin es ini hanya satu dari awal bencana yang akan terjadi di hari depan. Keberadaan kamu penting untuk keselamatan dunia,” kata perempuan itu.

Aku hanya tergugup dan tak bisa berkata apa-apa. Kebingungan semakin melanda pikiranku.

“Kamu harus percaya padaku. Kamu punya peranan penting dalam menyelamatkan mereka semua,” lanjut perempuan itu dengan misterius.

Aku tak bisa berpikir apa-apa. Namun entah kenapa, aku hanya mengangguk dan mendekatkan telapak tanganku ke bunga lili yang dipegangnya.”

“Terima kasih,” katanya.

(Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan karakter tertentu).

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang
Bagian 3: Menatap
Bagian 4: Mendingin

Mendingin

imajinasi March 23rd, 2009

Aku menggerakkan tanganku. Kanan dan kiri, bergantian mengayuh air, agar tubuhku terus bisa melaju. Sekali nafas yang aku ambil, terus aku tahan, agar aku bisa semakin lama merasakan air dingin menyapaku di dalam kolam berair biru ini. Pikiranku mulai tenang. Membayangkan, memikirkan, merencanakan segala hal. Air dingin membuat semuanya terasa jernih, meski semuanya bertaburan acak di benakku.

Aku menatap jauh ke hadapanku. Aku terus melaju, menempuh jarak yang tak seberapa jauh ini. Semakin tenang pikiranku, semakin cepat aku bergerak. Mendekati ujung, aku mulai mengambil nafas panjang, dan memasuki air lebih dalam hingga dadaku menyentuh dasar kolam. Aku mulai menikmati kesepian. Hanya suara gelembung udara dari mulut saja yang menjadi temanku. Kedua tanganku pun menyentuh ujung kolam. Aku mulai memejamkan mata, mengangkat badan, seakan melompat keluar dari permukaan kolam, sembari mengambil nafas lebih panjang.

Aku mulai mendengarkan, meski mataku masih terpejam. Kolam yang semula cukup ramai manusia ini tiba-tiba menyepi, tanpa suara sama sekali. Saat kubuka mata, aku hanya bisa menatap terkejut. Kulitku yang masih berasa dingin ini pun mulai bergidik. Keringat dingin mulai mengucur dari keningku. Sungguh kehororan yang tak bisa kulukiskan dengan mudah.

“Astaga, mereka semua… Mereka semua berubah menjadi es.”

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang
Bagian 3: Menatap

Menatap

imajinasi March 16th, 2009

Pria tua itu duduk tenang dalam ruangan tertutup yang terterangi cahaya bulan. Sengaja lampu ia padamkan, karena saat itu purnama bersinar terang. Kacamata terlihat di dahinya. Ia memijat-mijat matanya, lalu kembali menatap monitor bergambar jeruk di hadapannya.

Pria itu terus menatap monitor seperti menunggu sesuatu akan terjadi. Ia mengambil rokok hitam yang masih menyala di asbak, memainkannya, dan menghisapnya. Nafas yang memburu mengikuti asap dari mulutnya. Matanya kembali menatap ke luar, memperhatikan cahaya bulan yang semakin menguning. Tak lama, rentetan bunyi bip terdenar dari monitor di hadapannya.

Pria itu lalu membuang sisa rokok ke asbak, mengelus perutnya yang gemuk, dan berdiri. Ia membenarkan celana katungnya. Tongkat jati berukiran naga yang tersandar di dekat kursi pun dibawanya. Sambil tertatih-tatih, ia pun berjalan keluar berpandu tongkat. Matanya silau saat menatap cahaya lampu di ruangan luar.

Pria itu lalu menyapa perempuan cantik yang turun dari langit dengan anggunnya. Bunga lili putih terlihat digigit perempuan itu pada tangkainya.

“Lama sekali sih kamu datangnya..”

(Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan karakter tertentu)

Bagian 1: Menunggu
Bagian 2: Melayang